Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

2/29/2024

Sehabis Sekolah Chapter 2 | Sastraku Origami Waktu

 Sehabis Sekolah

(Fardin Yasin Amura)




Sehabis pulang sekolah, bulan menunggu di depan gerbang sekolah. Sudah 10 menit lamanya, ia menunggu disana. Namun zahdan belum juga tak kunjung datang. Ia mengirim pesan singkat kepada zahdan.

“Zahdan, kamu di mana?”

“Tunggu aku yah, aku lagi sementara di kelas”

“Kok, lama banget”

“Yah, bentar lagi kok. Ini baru aja mau keluar kelas”

Dengan cemberut, bulan menunggu zahdan. Sudah 30 menit berlalu, zahdan tak kunjung datang. Ia penasaran, mengapa sahabatnya begitu lama. Bulan pun berinisitatif pergi mencari zahda.

Di kejauhan sana, bulan melihat seorang cowok yang jalan sempoyongan sambil digandeng oleh cewek. Bulan yang khawatir langsung berlari menuju mereka.

“Zahdan… kamu kenapa” kata bulan khawatir

“Nda kok, aku nggak kenapa-kenapa” balas zahdan

“Tapi kaki mu…”

“Tadi tidak sengaja, zahdan jatuh dan kakinya terkilir” ujar wanita itu

“kamu jatuh di mana?” Bulan sedih

“Nggak apa-apa kok, aku tadi terjatuh di kelas. Tapi untung ada Anisa yang bantu aku jalan”

“Makasih yah Nisa sudah bantu zahdan” kata bulan

“Sama-sama, aku juga kebetulan lewat depan kelas. Dan terkejut, lihat zahdan jatuh” ucap Anisa

“Sini, biar aku bantu” Bulan mengganti posisi anisa

“Makasih yah Anisa, kalau nggak ada kamu. Pasti aku sudah dimarahi sama Bulan” kata Zahdan sedikit tertawa

“Kok, ngomongnya gitu sih” Bulan cemberut

“Santai aja, lagi pula aku senang kok, kamu nggak kenapa-kenapa. Oh iya, aku duluan yah” ucap Anisa

Anisa pun pergi meninggalkan mereka. Ia begitu cepat pergi dan berlalu tanpa meninggalkan jejak. Disamping itu, bulan yang khawatir membantu zahdan berjalan. Ia sedikit sedih melihat zahdan kesakitan, namun zahdan selalu menyematinya bahwa ia akan segera baikkan. Mereka pun pergi meninggalkan pintu sekolah.

Baca selengkapnya

2/19/2024

Sebuah Firasat Chapter 2 | Sastraku Origami Waktu

 Sebuah Firasat

(Fardin Yasin Amura)

 


Sebuah firasat yang tak biasa. Kadang hadir mengisi kekosongan yang rapuh. Bukan karena ia sedang sedih, bukan juga cerita akan awan kelabu di langit nestapa. Mungkin itu rindu. “Aneh”. Namun hanya saja awan sedang tersenyum melihat lelaki itu. Menatap langit dan tersenyum di antara tulip yang indah. Rasa-rasanya, alam semesta sedang berbisik dan sibuk menyampaikan pesan untuknya.  

Kelabu yang membawa senja. Ia sedang terhanyut dalam coretan tinta. Menulis sebuah impian, cinta dan pengharapan. Hmmm, apa mungkin ia sedang tak berlogika sekarang. Menghabiskan waktu dengan ketidakpastian dan tersenyum akan hal itu. Tak ada lucu, ia sedang curhat pada Sang Pencipta. Berharap yang terbaik untuknya, tanpa mempedulikan dirinya yang merindu.

Sedikit lagi, ia akan menyelesaikan melodi terakhirnya. Terasa menenangkan ketika hembusan angin meniup daun yang jingga. Coretan itu masih tertulis rapi di lembaran kertas putih yang sedikit kusut. Ia mulai memenjamkan mata.

Ia seolah menari dalam panggung sederhana. Perawakannya yang anggung membuat siapa pun terpesona melihatnya. Sorot mata yang tajam, memperlihat keseriusan di setiap gerakannya. Sungguh permata yang dirindukan.

Wajah itu tampak samar. Cahaya mentari cukup menyilaukan. Ia nampak bak permata yang seolah memanggil ku. Ataukah ini didalam mimpi. Namun ia tersenyum indah pada ku. Aku terpesona, haruskah aku terbangun sekarang dan melupakan semua kejutan ini. Aku ingin mengungkapkan tapi ia selalu membuatku memilih diam. Namun aku masih tak percaya, mengapa suara itu masih terdengar jelas.

“Zahdan…” “Zahdan…”

“Engkau kah itu permata”

“Apa sih, kamu ngigo yah?”

“Kamu siapa?”

“Ihhh, nda lucu tahu. Aku Bulan”

“Bulan…!!” sontak Zahdan kaget dan terbangun

Melihat itu benar-benar sahabatnya. Zahdan pun kaget dan terbangung dari tidurnya. Tak seperti biasanya, bulan bertingkah aneh seperti ini.

“Zahdan, aku lulus olimpiade untuk mewakili sekolah”

“Wah… aku turut bahagia. Aku sudah yakin, kamu pasti lulus”

“Iya zahdan, makasih yah sudah men-support aku”

“Santai saja, aku ini sahabat mu. Selagi itu baik. Apa pun keputusan mu aku akan tetap mendukung mu”

“Oh iya, aku ingin ngasih kejutan ke kamu. Tutup mata mu. Kamu nggak boleh ngintip”

“Kamu ada-ada saja. Baiklah, aku tutup mata”

“Ye… Buka mata mu. Ini coklat kacang kesukaan mu”

“Aku kira apa’an. Aku makan yah”

“Sini aku suapin. Habiskan…” Kata Bulan manja

“Apa’an sih. Biar aku makan sendiri saja” jutek Zahdan

 Mereka pun memandangi senja yang kian menampakkan diri di cakrawala. Angin sepoi meniup dedaunan yang gugur melantungkan melodi yang indah. Perlahan malam menghampiri. Pertemuan sesaat itu hanya meninggalkan selembar kerta dengan coretan-coretannya. “Zahdan, ayo kita pulang. Sudah malam”.

Baca selengkapnya

2/12/2024

Toko Buku Chapter 1 | Sastraku Origami Waktu

Toko Buku

(Fardin Yasin Amura)

 


Zahdan mengajak bulan ke tokoh buku kesukaannya. Kebetulan, bulan sedang mencari novel terbaru. Ia memang suka membaca novel islami. Karena itu, zahdan kadang memberikan sahabatnya novel islami, yah meskipun mereka beda agama tapi zahdan tetap menghargai sahabatnya. Bulan itu unik, ia sebenarnya bukanlah seorang muslim. Ia hanya tertarik pada kisah cinta seorang muslim di setiap novel yang ia baca. Meskipun seperti itu, zahdan tak pernah mempersoalkan tentang agama dihadapan sahabatnya. Ia hanya mendengarkan kekaguman sahabatnya pada setiap cerita yang ia baca.

Mereka menyulusuri tokoh buku itu. Bulan terkadang kegirangan melihat buku-buku yang bagus. Sedangkan zahdan hanya tersenyum melihat tingkah laku bulan. Tak ada yang lebih bahagia ketika melihat sahabat yang kita cintai bahagia. Zahdan merasakan hal itu pada bulan. Bulan adalah sahabat yang sangat ia sayangi.

“Zahdan, ayo kesini, ada buku bagus cocok buat kamu”

“Iya cerewet”

Bulan mengambil buku sampul hitam. “Kamu tuh harus banyak belajar menjadi orang yang peduli sama orang lain”. “Buku apa’an ini Lan?” kok kamu nyuruh aku baca buku ini. “Kamu itu orangnya sering cuek, jadi harus banyak baca buku relationship

Relationship itu apa Lan?”

“Itu tentang hubungan. Kamu tuh harus baik sama cewek. Nanti cewek pada minder sama kamu”

“Ada-ada saja kamu Lan”

“Justru kamu yang harus banyak-banyak belajar, supaya tidak dikejar kejar terus sama cowok-cowok di sekolah”

“Apa’an sih kamu, kok bilang dikejar sama cowok”

“Kalau aku sih, malas tahu. Tapi aku malah khawatir dengan para cowok kesepian yang selalu membawakan mu bunga di sekolah”

“Ha… Cukup Zahdan. Aku tidak mau ingat kejadian itu lagi”

“Norak banget yah…” Kata Zahdan ketawa

“Nda juga sih”

“Jangan-jangan, kamu juga baper yah. Oh tidak, sahabat ku akan direbut orang”

“Kamu ini ada-ada saja”

“Hehehe… Yuk, kita cari buku lagi”

Ketika mereka sedang sibuk mencari buku di toko buku tersebut. Zahdan bertemu dengan Anisa. Yah, dialah Anisa, seorang muslimah yang telah lama mengagumi zahdan. Dia cantik dan baik. Di Sekolah, dia juga mengikuti organisasi yang sama dengan zahdan. Kebetulan zahdan menjabat sebagai ketua, sedangkan Anisa sebagai bendaharanya. Mereka cukup dekat di sekolah. Disisih lain, zahdan tidak terlalu mempedulikan perasaan Anisa padanya. Namun Anisa selalu sabar menunggunya.

“Anisa…”

“Kamu lagi apa disini?” sambil menunduk pandangannya

“Aku sedang nyari buku”   

“Kebetulan aku juga lagi nyari buku, mau bareng sama kita”

“Nggak kok, aku sudah dari tadi disini”

“Oh… Aku kira belum lama disini”

“Siapa itu Zahdan”

“Kenalin, ini sahabat ku bulan”

“Hai… Aku bulan. Kalian kenalan dimana?”

“Oh… ini Anisa, dia bendahara ku di sekolah”

“Kok, kita nggak pernah ketemu di sekolah”

“Yah… emang, kemarin dia pindahan dari sekolah lain. Tapi langsung ke pilih di ekskul sekolah untuk temani aku di kepengurusan”

“Hehehe… hati-hati sama Zahdan. Dia itu orangnya jutek. Aku sahabatnya pusing dengan kelakuannya” kata bulan

“Nda kok… Zahdan orangnya baik”

“Dengar itu Lan, aku ini orang baik. Kamu aja yang minta diperhatian terus”

“Dasar jutek” kata bulan mengusak rambut zahdan.

“Oh iya, Anisa. Sampai ketemu nanti. Takutnya bulan ngambek”

“Iya Zahdan. Aku pergi dulu yah”

Anisa pun meninggalkan mereka yang sedang sibuk mencari buku di toko itu. Entah mengapa, perasaan cemburu tiba-tiba datang menghampiri lubuk hati terdalam Anisa. Namun memang benar, tak ada yang lebih tulus dan terbuka ketika zahdan bersama bulan. Ia begitu ceria bersamanya. Sedangkan di sekolah Zahdan sangat tertutup. Sangat jarang ia melihat zahdan tersenyum. Ia adalah tipikal cowok tertutup. Apa mungkin ia telah mencintai orang yang salah.

Baca selengkapnya

2/04/2024

Kehangatan Chapter 1 | Sastraku Origami Waktu

Kehangatan

(Fardin Yasin Amura)

 


Zahdan baru saja tiba di Rumah sahabatnya. Pagar putih masih tertutup rapat dihadapannya. Ia berjalan perlahan menuju ke arah gerbang tersebut, membuka lalu menutupnya kembali. Ia menyulusuri setapak kecil yang berbaris rapi di kelilingi rumput hijau indah. Ia pun memencet bel namun tak ada membukakannya. Ia duduk sejenak di kursi kayu coklat tua sambil memandangi arloji di tangan kirinya. Namun tak berlangsung lama, seseorang pun datang membuka pintu itu dan terdengar suara yang tak asing di benaknya.

“Zahdan…”   

Sontak ia berbalik arah melihat ke arah suara itu. Senyuman itu selalu saja menyambutnya, ia begitu sederhana dan tampak tulus. “Sahabat ku, selalu saja begitu” tak sengaja Zahdan bergumam.

“Aku kira tadi nda ada orang di rumah”

“Ayo ke dalam, bunda lagi sibuk masak di dapur” kata Bulan

Zahdan langsung menuju ke dapur dan bertemu bunda. Bulan melanjutkan pekerjaannya membuat kue kesukaan Papa.

Zahdan langsung menyalami bunda di dapur.

“Sore Bunda”

“Zahdan anakku, kamu sudah datang. Tadi Bulan ngambek terus karna kamu belum juga datang”

“Ih.. Bunda, aku ndak suka bilangnya gitu sama Zahdan” Bulan cemberut

“Bulan ternyata lucu juga yah Bunda, Hihihihi”

“Emang sudah gitu dari dulu, kamu yang sabar yah”

“Tenang Bun, aku tetap sabar menghadapi Bulan.  Oh iya Bunda, lagi masak apa hari ini?”

“Lagi buat soup kesukaan Papa. Zahdan bisa bantu bunda ambilin telur ayam di kulkas”

“Bunda, Bulan juga mau telur ayam. Untuk bikin kue kesukaan papa”

“Oh iya, sekalian untuk Bulan juga”

“Siap Bun”

Zahdan mengambil beberapa telur di kulkas lalu memberikan kepada mereka. Ia begitu antusias membantu masak. Sesekali ia tertawa melihat sahabatnya yang cemberut karena beberapa kue yang dibuatnya gosong dalam oven. Zahdan sih yang paling jahil kalau lagi suasana garing. Sedangkan Bunda lagi sibuk mengupas bawang meras.

Hingga tibalah menjelang malam, setelah semua hidangan telah ada di meja makan. Zahdan membantu menyiapkan semua perjamuan kecil itu di ruang keluarga. Bulan masih sibuk menata ruang depan yang sengaja dihiasi keramik kesukaan Ayah. Sebenarnya bagi sebagian orang ini biasa, namun keluarga ini telah menanti kedantangan Ayah selama lima bulan lamanya. “Sahabatku begitu mencintai ayahnya, mungkin ia kesepian semenjak adiknya tinggal bersama Nenek di Singkawan setahun yang lalu. Ia adalah Raysa , adik perempuan yang sama manjanya dengan sahabatku”.   

Bunda sudah menunggu di depan teras rumah. Zahdan dan Bulan masih sibuk merapikan meja makan dan dekorasi ruangan. Namun tidak lama kemudian, suara mobil datang menghampiri depan rumah. Seseorang turun berpakaian rapi lengkap sambil memengang tas yang cukup berat. Sontak hal tersebut membuat membuat mereka penasaran.

“Bunda kenapa di luar”

“Ayah…” Teriak Bulan

“Ayah sudah makan?” Tanya Bunda

“Belum Bunda, tadi dari bandara, ayah langsung ke rumah”

“Bunda sudah siapkan menu makan malam spesial untuk ayah”

“Wah… Kebetulan bunda. Perut sudah keroncongan” Ayah merayu

“Assalamu’alaikum Ayah” Ucap zahdan langsung sambil mencium tangan ayah

“Walaikumsalam Nak, dari jam berapa disini Zahdan”

“Ini Yah, kemarin bulan nyuruh datang ke rumah jam 4 sore, buat bantu-bantu”

“Yang sabar yah, nak. Bulan orangnya baik”

“Siap…”

“Zahdan kan sahabatku, jadi aku bebas minta tolong sama dia” bulan tersenyum

“Ayo kita ke dalam, nanti keburu dingin makanannya” Ujar Bunda

Jadi heran, serasa berada di rumah sendiri. Kehangatan keluarga yang sangat dirindukan. Mereka menyambut hidangan senderhana itu dengan penuh suka cita. Rasanya, tidak ada yang ditinggalkan, meskipun telah lama ayah meninggalkan rumah. Keluaga kecil ini tetap merindukan sosoknya. Acara makan pun berlangsung dengan penuh kehangatan.

Baca selengkapnya

1/29/2024

Menanggung Janji Chapter 1 | Sastraku Origami Waktu

Menanggung Janji

 (Fardin Yasin Amura)



Pukul 5:30 Pagi alarm berbunyi. Anak lelaki itu terbangun sambil merenggangkan badannya yang keram. Ia mematikan alarm yang terus berbunyi di atas meja tepat samping kanang. Lalu beranjak meninggalkan tempat tidur.

Suasana sunyi masih menyelimuti pagi dan tampak langit mulai memancarkan cahaya mentari. Anak itu terhening sejenak memandang keindahan Tuhan di depan teras rumah. Halaman rumah yang asri, mengaromakan bunga anggrek berwarna putih di atas pohon rindang. Ia bersyukur.

“Zahdan.. Kok malah bingung disini”

“Nda Bu, aku hanya nikmati pagi”

“Ibu hanya mau bilang. Jangan kebanyakan ngelamun kalau pagi. Nanti kamu kehabisan waktu untuk hal lain”

“Iya Bu. Ini juga mau siap-siap ke sekolah”

“Oh iya, ibu sudah siapkan sarapan pagi di meja. Yuk. Makan sebelum berangkat ke sekolah”

“Ibu tahu aja, kalau Zahdan lagi keroncongan sekarang” kata Zahdan sambil tertawa kecil

Masakan ibu selalu juara kalau lagi lapar. Biasanya ibu selalu memasak nasi goreng campur telur dadar. Zahdan biasanya langsung ke meja makan terlebih dahulu sebelum ia mandi. Menikmati pagi bersama masakan ibu, tentu memiliki cita sendiri. Air putih membasahi kerongkongan yang telah kekenyangan.

Setelah sarapan, tentunya Zahdan bersiap-siap untuk sekolah. Yah.. mungkin bagi anak remaja seusianya, sekolah akan menjadi aktivitas yang membosankan dan penuh pelajaran yang membuat pikiran terkuras. Tapi tidak untuknya, semua itu berkat cerita dan semangat yang ia peroleh dari sahabatnya. Memiliki sahabat yang cerdas dan juara di sekolah telah memotivasi Zahdan untuk terus menjadi yang terbaik. Hal unik yang tidak terbayang, ketika kesederhaan dari sebuah persahabatan mampu menciptakan ikatan pertemanan yang membahagiakan, mungkin saja lebih sekedar pertemanan biasa. Semua punya persepsi sendiri, namun tak ada yang lebih indah dari sebuah persahabatan yang tulus. Cukup bahagia dan jalani itu dengan penuh kepercayaan.

Pukul 6:13 menit, Zahdan pamit untuk ke sekolah. Ia berangkat ke Sekolah menggunakan angkot (Angkutan Kota). Perjalan itu terkadang penuh canggung, ia hanya menatap jendela angkot yang berjalan menembus alun-alun kota yang ramai. Zahdan harus sabar menunggu ketika harus berkali-kali singgah di tempat pemberhentian. Itu benar-benar membosankan dan mengambil waktu yang banyak. Untungnya, Zahdan bisa tiba ke Sekolah 5 menit sebelum apel pagi.

Bel berbunyi “tringggggg”. Zahdan berlari menuju ke kelas. Ia kelihatan kelelahan sesampainya di kelas. Ia mulai mengatur nafas, seolah semua baik-baik saja. Beberapa detik kemudian ia mulai merasa tenang. Tapi tiba-tiba ada yang menganggekkannya dari belakang.

“Zahdannnnn”

“Nafas ku, mau hilang”

“Zahdan, kamu kenapa?, kamu baik-baik saja kan?”

“Rileks… Rileks…” kata Zahdan sambil mengatur nafas

“Ternyata, kamu Bulan. Aku hampir kesulitan bernafas”

“Maaf, aku cuman bercanda tadi”

“Kalau bukan sahabat ku, pasti aku sudah beri peringatan”

“Iya, iya, maaf. Aku tadi mau kasih surprise pas kamu ingin masuk ke kelas”

“Emang siapa yang ulang tahun?”

“Nda sih, aku cuma ingatkan sahabatku. Kalau sebentar sore, Papa ku akan pulang dari Surabaya. Jadi besok aku sama bunda mau buat acara kecil-kecilan di rumah. Bantu aku untuk nyiapan acara besok”

“Jam berapa Papa mu tiba di Bandara?”

“Mama sih bilangnya jam 5 sudah tiba di Banjarmasin”

“Syukurlah”

“Tapi kamu harus janji yah sama aku. Kamu nda boleh telat”

“Iya, aku usahakan kok”

“Oke. Aku masuk dulu yah di kelas”

“ Whattt… Kamu nggak takut, kalau guru sudah duluan masuk di kelas mu”

“Hahaha… Murid pintar mah gampang masuknya”

“Ada-ada saja” sambil sedikit tertawa

“Aku tunggu yah besok di rumah”

Tak berlangsung lama ketika Bulan pergi. Guru pun masuk ke kelas. Zahdan hanya tersenyum melihat tingka laku sahabatnya tadi. Ia mungkin tak ingin berjanji di hadapan sahabatnya, tapi selalu ada alasan mengapa setiap kali sahabatnya memberikan kepercayaan. Ia tetap mengenggamnya dengan erat, tak mau ia bersedih. Ia hanya perlu komitmen untuk menanggung semua itu. Zahdan kembali fokus untuk mengikuti pelajaran sekolah hingga selesai.

Baca selengkapnya

1/27/2024

Mentari Chapter 1 | Sastraku Origami Waktu

Mentari

(Fardin Yasin Amura)




Awal yang cerah di kala pagi yang membesuk penuh kerinduan, hati seakan membawa sejuta harapan yang damai dan penuh kebahagiaan. Ada yang hadir ketika ke tidak pastian membisik. Namun jiwa selalu berkata bahwa inilah hari terbaik yang pernah ada itu. Di mana waktu terus berdetik dan suara tetap mengikuti perubahan detik yang tampak hening. Di kala senja telah membangungkan fajar. Disitulah sang waktu bercerita.

Teringat jelas di benak ini, cahaya mentari itu begitu jelas menyinari hari yang cerah. Mata yang telah lelah membaca buku, lembar demi lembar di sebuah taman yang rindang. Pohon yang menari dikala anging membelainya. Udara segar di pagi hari memberikan kesejutan yang tiada akhir. Danau di tengah taman terasa menenangkan pikiran yang telah lelah menikmati pagi yang indah.

Zahdan sedang menunggu sahabatnya yang telah sejam berlalu belum juga datang menemuinya. Sambil membaca novel, ia selalu tersenyum dan merasakan setiap tulisan indah itu. Ia duduk di kursi taman berwarna hitam yang berada tepat disamping pohon hijau yang rindang. Daun gugur memupuk sebuah kasih persahabatan yang memberikan pelangi kehidupan. Ia masih tersenyum dalam diamnya. Tiba-tiba seseorang datang dan menutup mata zahdan seraya berkata

“Ayo tebak, siapa aku?” terdengar lembut

“Siapa yah…?”

“Masa nggak tahu” cemberut

“Nggak tahulah… Soalnya hari ini aku bertemu dengan seorang malaikat”

“Kok… Malaikat?”

“Karena aku telah lama menunggu mu, wahai sahabatku” sambil tersenyum.

Sahabat merupakan kalimat suci yang diucap dengan niat yang ikhlas, ia tidak lahir dari cinta yang ingin memiliki, melainkan cinta yang berupa kasih. Ia bahagia bila melihat sahabatnya bahagia, dan bersedih bila ia sedih. Seorang sahabat tak pernah lelah mendokan yang terbaik untuk sahabatnya. Ia adalah bagian dari kelembutan hati itu dan tetesan air mata terakhir. Ia tak lahir dari kisah cinta atau pun pata hati terhebat, melaikan ia anugrah Tuhan yang datang memeluk untuk memberikan sejuta kejutan tanpa mengenal lelah.

“Oh iya… Bulan, aku ingin berikan kejutan pagi ini” kata Zahdan

“Apa itu?”

“Pejamkan mata mu”

“Bukalah mata mu”

“Oh Tuhan… Makasih Zahdan, kamu benar-benar nyariin buku itu untuk ku”

“Dokter Berhati Malaikat, itu novel kesukaan mu”

“Aku juga suka novel Di Bawah Lindungan Ka'bah..”

“aku pun suka ceritanya, agak nggak masuk di akal” sedikit jutek

“Apaan sih, jutek…” sambil memukul bahu Zahdan

“Soalnya kamu lucu kalau aku jutek” sedikit tertawa

“Nggak lucu, tahu” Bulan cemberut

“Yaudah… kita diskusi aja”

“Diskusi apa?”

“Matematika” sambil menunjukkan buku matematika tentang al-jabar

“Yuk…” kata Bulan bahagia

Matematika adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Zahdan dan Bulan. Sering kali di minggu pagi yang tenang, mereka bertemu untuk berdiskusi tentang mata pelajaran sekolah yang kurang dipahami atau pun hanya sekadar berlomba mengerjakan soal yang sulit, Yah… matematika merupakan pilihan yang tepat untuk perlombaan kali ini.

Mereka sangat bahagia. Bulan tertawa melihat zahdan kebingungan mengerjakan soal yang diberikan oleh Bulan. Namun zahdan menganggap candaan itu sebagai tantangan dari sahabatnya.

Zahdan perlahan terdiam dalam senyuman mengalihkan pandangan ke arah danau yang tenang. Ia sedikit berbisisk pada alam yang seolah menari di pikirannya. Ia menyadari suatu magnet Tuhan dari surga lewat sosok yang selalu dirindukannya, ialah Bulan. “Aku sadar, kamu istimewah untuk ku” kata Zahdan berbalik menatapnya.

Bulan hanya tersenyum. “Zahdan, mungkin aku tidak sempurna untuk mu tapi aku bersyukur bisa menjadi sahabatmu”.

Mereka meninggalkan bangku taman itu dan menuju ke danau itu. “Bulan, aku ingin tujukin suatu hal untukmu” sambil menarik tangan Bulan melewati taman bunga yang indah.

“Apa’an sih Zahdan?”

“Kamu, nggak akan nyesal deh…”

“Janji yah”

“Nda janji…” sambil menutup mata Bulan

Kemudian mereka pun tiba di tepi danau itu. tenang dan mendamaikan hati.

“Bulan… Bukalah mata mu perlahan”

Bulan membuka mata perlahan, namun tiba-tiba ia menangis dan memeluk Zahdan. “Terima kasih Zahdan, kamu adalah sahabat terbaik ku, aku sayang kamu Zahdan”

“Bulan, kamu bahagia hari ini?”

“Aku bahagia zahdan”

“Kenapa baru hari ini, kamu nunjukin semua ini?”

“Ya… Soalnya kamu sibuk terus, jadi aku tunggu momen yang tepat”

“Aku minta maaf”

“Kamu nda salah kok, aku saja yang tidak sabar nunjukin semua ini”

“Dasar…” kata Bulan

Zahdan mengambil sebuah batu lalu melempar ke tengah danau yang tenang itu. Ketika batu itu tenggalan, seketika air danau membuat gelombang kecil yang kemudian memercik di pinggir danau. Bulan mengambil batu kecil mengikuti Zahdan, lalu mencoba melempar batu dengan jarak jauh. Ia melemparnya dengan penuh semangat tanpa peduli bahwa itu lucu.

Bulan sedikit termenung. Ia seolah sedang menyimpang perasaannya. Melihat Zahdan bahagia, itu sudah cukup untuk menghiasi hidupnya. Mungkin itu terdengar sederhana, tapi baginya Zahdan adalah sosok yang selalu ada dibelakang Bulan, seorang sahabat yang dapat diandalkan di kala suka dan duka. Entah mengapa, zahdan selalu punya cara yang unik untuk membahagiakannya. Terlepas dari kesalahpahaman yang pernah mereka lalui. Ikatan persahabatan mereka cukup kuat untuk menepis semua itu. “Aku bersyukur, karena kamu telah ikhlas bersahabat denganku, Zahdan” kata Bulan sambil bergumam.

 Waktu mulai tak terasa, mentari pun telah menyekat di kulit. Entah mengapa ia begitu cepat berlalu, tanpa memberikan isyarat.

Baca selengkapnya

9/20/2022

Cerpen Gadis - Bandel Cerdas

 

Gadis

(Fardin Yasin Amura)

pixabay.com

Suatu ketika di kelas bahasa sedang diadakan membaca kisah oleh setiap siswa. Semua siswa begitu antusias karena jika tidak mengikuti kelas tersebut, maka akan berpengaruh pada nilai kelulusan mereka di sekolah. Saat kelas berlangsung, guru selalu memberikan applause bagi mereka memiliki penampilan terbaik ketika bercerita. Dan semua tercengang saat mendengar kisah dari seorang teman kelasnya yang dikenal berhati dingin. Sampai terdengar, beberapa teman kelasnya berkata “dia itu jadi cowok nggak punya perasaan. Mustahil bagi dia untuk mau bercerita di depan kelas”. “Iya bener. Cowok nggak punya hati gitu mana mungkin mau cerita norak kayak gini”. Namun semua berubah ketika ia bercerita. Dan beginilah kisahnya.

Aku masih ingat, saat pertama kali melihat mu, aku merasa ada yang beda. Sesuatu yang tak dapat dijelaskan melalui kata atau bisikan hati yang hanya sekedar menegur sapa. Aku sejenak yang hanya berdiam diri di atas batu yang tinggi. Saat itu mentari pagi cerah, hangat dan terasa segar untuk sekedar menghirup udara yang hadir menghampiri kekakuan ku.

Entah kau menyadari, itu sudah kali ke berapa, kau mencoba menghampiri ku. Tapi aku tetap saja acuh dan tak mempedulikan semua itu. Namun engkau masih saja tersenyum, dan menganggap semua tak terjadi.

 Dan saat itu aku merasa utuh. Ingin ku meneriakkan sapa pada hati ku yang bisu. Dan biarlah syair yang membawa mu jatuh lebih dalam.

 

Dia yang berdiam disana

Selalu tersenyum

Saat muka berpaling

Begitu baik menegur sapa

Tertawa ceria saat jauh melirik

 

Dia yang tiba tiba menghampiri

Terdiam kaku saat mata memandang

Membawa keheningan sedetik

Membisikkan harapan namun tak bersuara

 

Dia yang sabar menunggu

Tak menyerah meski tersakiti

Tak berhenti meski terhalang

Oleh batu keeogisan

 

Dia yang pergi lalu tak kembali

Hangat Matamu terhias ketenangan

Tulus dan indah

Bagai Air memberikan kehidupan

Akan kah semua telah berubah


Aku tahu semua itu hanyalah cerita. Mungkin semua telah berubah. Ketulusan itu bukan lagi milik lelaki itu yang dulu pernah ada di hati mu. Waktu pun telah berlalu, seolah nampak tak dapat kembali. Kau yang telah jauh hingga aku pun belajar melepaskan semua.

Terkadang cerita mu menjadi akhir, dan mungkin awal yang baru. Setelah engkau melihat luasnya dunia. Hati pun mulai bergeming, apakah aku salah selama ini. Mungkin aku hanyalah terlalu egois pada diri ku. Jika itu benar adanya. Aku hanya berkata bahwa kau adalah bentuk kesyukuran ku yang paling indah dalam hidup ku. Terima kasih, untuk semuanya cerita yang engkau berikan kepada ku. Semoga aku tidak merasakan penyesalan untuk kedua kalinya.

Baca selengkapnya

3/22/2022

[Cerpen] Dunia penyihir - Gerbang Keadilan

 

Mentari di Ufuk Timur Part 2

(Karya: Fardin Yasin Amura)

Sumber Gambar: pixabay.com

Suara tapak kaki kuda berjalan melewati lembah yang curam. Terik matahari begitu terasa di kulit. Sungguh dehidrasi yang tak tertahankan oleh tubuh yang kian renta, tak mampu melawan. Tubuhnya hanya terbujur lemah tak berdaya. Ia seolah mendengar percakapan burung hantu yang berterbangan di angkasa. Mengapa ia berada di dunia yang tak mampu dijelaskan oleh logika. Hawa sang penunggu jiwa meraung di tengah perjalanan yang tak pasti. “Apakah kamu akan kehilangan semangat? tidak, dia tak mau menyerah” suara parau membisik.

“Siapakah anak itu…?”

“Dia bukan dari bangsa kita”

“Mungkinkah itu manusia? Aku mencium bau manusia darinya”

“Manusia katamu, aku haus darah manusia”

“Apa? kamu mau mengambilnya dari ku!!!”

“Kau hanya mengganggu ku, wahai penyihir”

“Sudah, kalian jangan bertengkar… Anak itu sedang bersama prajurit Elevia Combeli

“Mereka selalu saja menghalangi kita untuk menguasai dunia Erfest

“Dunia ini haruslah menjadi milik kita….”

“Sudahlah, kita tinggalkan saja anak manusia itu, sebelum prajurit Elevia Combeli menemukan kita”

“Sial, mantra mereka cukup kuat untuk mengalahkan kita” Bayangan itu pun sekilas menghilang begitu saja.

Awan hitam kelabu menyelimuti hutan penyihir yang haus akan darah. Burung gagak beterbangan menghiasi langit yang kian menggelap. Pusaran angin membawa bau tak sedap dari penjuru kegelapan. Pasir menggumpal dan berubah menjadi warna hitam pekat. Selain itu semua tumbuhan tiba-tiba layu.

Prajurit itu pergi melewati lembah kegelapan. Pasukan berkuda yang berbaris rapi tanpa membentuk celah sedikit pun. Barisan tersebut memakai amor dan perisai emas. Hentakan kaki prajurit menggema segala penjuru hutan. Lolongan serigala berdatangan dan melangkah dari kejauhan.

Salah satu prajurit meniup terompek “Duhhhhh….”

“Buka Gerbang Keadilan” Teriak prajurit

Sontak aura 7 naga mengeluarkan api yang panas. Mengukir setiap pola gerbang keadilan. Cahaya emas pun terpancar menyilaukan mata. Perlahan lahan gerbang keadilan terbuka.

Naga Lawero muncul tepat saat gerbang itu terbuka sepenuhnya.

“Aku naga Lawero. Penjaga gerbang keadilan. Aku mencium bau manusia”

“Yah… Tuan Penjaga. Kami tak sengaja menemukan seorang manusia yang tersesak di hutan penyihir”

“Kenapa kalian membawanya kemari?” naga Lawero marah

“Maafkan kami tuan penjaga, kami hanya ingin menyelamatkan manusia ini dan membawanya ke hadapan Raja” ucap salah seorang prajurit

“Apa kalian lupa. Ini adalah dunia Erfest yang sudah beribu tahun tidak pernah dimasuki oleh manusia. Perjanjian antara bangsa manusia dan penyihir melarang manusia memasuki alam penyihir, dunia Erfest”.

Seorang jenderal datang menghampiri dari dalam gerbang keadilan. “Tunggu tuan Penjaga”

“Kau… Jenderal La Nuangi , mengapa kau datang kemari?”

“Tenanglah, tuan penjaga. Aku mendengar dari pendeta kuil bahwa akan datang penyelamat negeri ini dan dia seorang manusia”

“Seorang manusia. Mungkinkah yang kamu maksud adalah manusia itu? Dia terlihat lemah”

“Aku tidak tahu pasti. Tapi tidak ada salahnya untuk membawa anak ini dihadapan pendeta kuil dan raja. Mungkin kita akan menemukan kebenaran darinya”

“Baiklah. Aku mengijinkannya. Ketahuilah jika ada yang salah dari anak manusia ini, maka aku sendiri naga Lawero yang akan menghabisinya”.

“Baik, tuan penjaga…” ucap Jenderal La Nuangi .

 

Bersambung…..

 

Baca selengkapnya