Senja Tak Berbintang
Di bawah langit senja yang tak berbintang,
Di antara bisik angin yang penuh rasa,
Ada seorang lelaki, jiwanya terkurung,
Tak ingin jatuh cinta, memilih merindukan kematian.
Ia berjalan di jalan sepi, tanpa jejak,
Menghindar dari hangatnya pelukan dan sayang,
Hatinya membeku dalam dingin ketidakpedulian,
Memilih sunyi daripada canda yang penuh harap.
Dalam mimpi yang retak, ia mencari ketenangan,
Kematian seperti pelukan yang tak tergapai,
Lebih lembut daripada luka cinta yang tak kunjung sembuh,
Lebih pasti daripada janji yang penuh dusta.
Dia menatap bintang, tetapi hanya bayang-bayang yang tampak,
Dan merindukan akhir yang membebaskannya,
Dari kerumitan perasaan yang membelenggu,
Lebih dari segala kebahagiaan yang mungkin ada.
Di luar sana, dunia terus berdetak,
Tetapi dia, lelaki itu, memilih sepi,
Kematian menjadi sahabat yang setia,
Daripada cinta yang penuh kepalsuan dan derita.

