10/01/2024

[Puisi untuk mu] - Rindu di Ujung Waktu

 

Rindu di Ujung Waktu

 


Langit mulai meredup, mentari tak lagi hangat, 

Dedaunan jatuh perlahan, seperti nafasku yang kian berat, 

Aku tersandar di tepi senja yang tak bernama, 

Menanti angin yang akan membawaku pulang ke selamanya.

 

Di ujung jalan ini, aku tahu, 

Waktuku mengalir seperti sungai menuju lautan kelam, 

Namun ada satu yang masih mengikat langkahku, 

Bayanganmu, yang tak pernah kusentuh dengan tangan.

 

Aku merindukanmu, lebih dari kata-kata bisa bicara, 

Lebih dalam dari samudera yang tersembunyi di hati, 

Namun suara ini tertahan, terjebak dalam kerongkongan sunyi, 

Sementara waktu berlari, tanpa pernah kembali.

 

Seandainya aku bisa bertahan sejenak, 

Menahan perahu di ambang arus terakhir, 

Kan kutuliskan namamu di langit yang merah, 

Sebelum malam menutup segala yang tersisa.

 

Namun aku tahu, angin malam akan segera datang, 

Membawa raga ini ke tempat yang jauh, 

Di mana bintang-bintang tak lagi bersinar untukku, 

Dan hanya bayangmu yang tertinggal, dalam bisu yang pilu.

 

Meski detik-detikku perlahan lenyap dalam sunyi, 

Rinduku takkan padam, ia akan terus menyala, 

Bersama setiap hembusan angin yang menyentuh wajahmu, 

Dan cinta ini, meski tak pernah terucap, akan hidup di antara bintang yang terlupakan.

 

Bila kau merasakan sepi di tengah malam, 

Ketahuilah, itu aku, yang tak pernah pergi, 

Rindu ini akan tetap bertahan, 

Bahkan ketika diriku telah hanyut bersama cahaya yang hilang di cakrawala.





Cor sincerum a Fardin Yasin Amura

Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.