Rindu di Ujung Waktu
Langit mulai
meredup, mentari tak lagi hangat,
Dedaunan
jatuh perlahan, seperti nafasku yang kian berat,
Aku
tersandar di tepi senja yang tak bernama,
Menanti
angin yang akan membawaku pulang ke selamanya.
Di ujung
jalan ini, aku tahu,
Waktuku
mengalir seperti sungai menuju lautan kelam,
Namun ada
satu yang masih mengikat langkahku,
Bayanganmu,
yang tak pernah kusentuh dengan tangan.
Aku
merindukanmu, lebih dari kata-kata bisa bicara,
Lebih dalam
dari samudera yang tersembunyi di hati,
Namun suara
ini tertahan, terjebak dalam kerongkongan sunyi,
Sementara
waktu berlari, tanpa pernah kembali.
Seandainya
aku bisa bertahan sejenak,
Menahan
perahu di ambang arus terakhir,
Kan
kutuliskan namamu di langit yang merah,
Sebelum
malam menutup segala yang tersisa.
Namun aku
tahu, angin malam akan segera datang,
Membawa raga
ini ke tempat yang jauh,
Di mana
bintang-bintang tak lagi bersinar untukku,
Dan hanya
bayangmu yang tertinggal, dalam bisu yang pilu.
Meski
detik-detikku perlahan lenyap dalam sunyi,
Rinduku
takkan padam, ia akan terus menyala,
Bersama
setiap hembusan angin yang menyentuh wajahmu,
Dan cinta
ini, meski tak pernah terucap, akan hidup di antara bintang yang terlupakan.
Bila kau
merasakan sepi di tengah malam,
Ketahuilah,
itu aku, yang tak pernah pergi,
Rindu ini
akan tetap bertahan,
Bahkan
ketika diriku telah hanyut bersama cahaya yang hilang di cakrawala.
Cor sincerum a Fardin Yasin Amura

