12/01/2017

Cerpen Remaja Efek Mesin Cuci



Efek Mesin Cuci
(Fardin Yasin Amura)  

Perang sedang berkecamuk, para prajurit pun sedang berlari untuk melawan musuh mereka. Pedang terhunus saling melukai dan menebas kemana-mana. Si jubah hitam itu terus memacu kuda yang ditungganginya lalu menancapkan tombak berlian pada benteng perlawanan musuh. Di angkasa terdapat panah-panah api menghujani medang perang dan tepat ke dada seorang pria tak berdosa. Pria itu berteriak dan terus berteriak yang sampai-sampai membangunkan dewi hujan. Di saat sang Putri sedang menangis, gemuruh menyuruh angin bertiup kencang yang membawa murka samudra. Tiba-tiba terdengar suara Sang ombak bersuara…..
“cuihhhhhhh” bunyi ciprakan air
“Ahhhhhh… tidakkkkk, selamatkan aku”
“Takkkkkk….”
“Ahhhhhhhhhhh,, ampun…”
“Bangun… bangun…”
“Tidakkkkk….. jangannnnn” tiba-tiba ia terbangun
“Bangun… Mimpi apa sih kamu?” kata ibu
“Toke…. Cicak… Oeeeee…”
“Alahhh, terlambat kau ngigo… sekarang sudah jam 07:12 pagi”
“Jam 07:12 pagi… Ohhhh, ”
“Pergi cuci mukamu dan setelah itu sarapan pagi”
Dalam keadaan yang kurang stabil, ia ke kamar mandi dan mencuci wajahnya yang penuh bekas air liur hingga bersih. Wajah yang begitu cemberut menatap cermin yang terbasah oleh percikan air, dan terus bertanya pada hati kecilnya, “apa salah dan dosaku?”.  Ia pun masih sangat kebingungan, kenapa Ibu membangunkannya pake cara siram air. Rasanya itu kayak ke sambar gledek, apa lagi bangunnya karna mimpi buruk. “Sumpah, kali ini ibu telah merusak hari minggu barokah”.
Seakan semangat ini telah sirna, mata pun mendayu-dayu memanggil si rasa Malas. Ia berjalan seperti menyerong kedua kakinya tak berimbang menuju meja makan. Moodnya pun seolah telah dipatuk ayam atau mungkin ke cebur di gorong-gorong samping rumah tetangga. Kata para orang malas yang bijak sih, mending diputusin cewek dari pada harus disiram pake air cucian beras.
Wajah yang makin tak berwarna ketika melihat ibu tersenyum dan adek sepupunya tertawa. Mengisyaratkan harga diri seorang anak telah dijual oleh ibu sendiri hanya karena ciprakan cucian beras.  Apa lagi saat itu, ia lagi dikena masa puber kelas elit, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan masa puber, tetapi lantaran terlalu takutnya pada si imut yang terus menempel di pipi sehingga ia memutuskan untuk tetap menjaga penampilan dan kebersihan wajah. Nah… sebenarnya juga, itu hanyalah  provokasi yang terus meracuni pikiran, anak berusia 15 Tahun itu.
Zahdan Putra Pangestu, begitulah ia dipanggil. Namun bagi sebagian orang, ia sering dipanggil Zahdan. Anak yang memiliki postur tubuh tegap dan sedikit gemuk itu terus bersabar melihat suasana yang tidak dikenan di hati itu. Sambil menghela nafas panjang, ia terus memperhatikan jam dinding pukul 07:34 pagi di samping meja makan sebelah kanan. Rasanya ada yang ganjil pada hari itu. Tidak seperti biasanya, hari ini terasa sepi dan tak ramai seperti yang ia rasakan sebelumnya. Ibu juga merasa keherangan melihat zahdan kebingungan. Di samping itu, ada yang ingin ibu sampaikan kepadanya tetapi ibu tetap menunggu sampai Zahdan selesai sarapan pagi.
Ketika Zahdan semakin merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia pun menghentikan sejenak sarapan pagi itu, lalu bertanya pada ibu.
“Bu… Rasanya ada yang aneh pagi ini”
“Ane kenapa..?” balas ibu
“kok, dari tadi aku perhatikan tidak ada Candra, kemana perginya itu anak, Bu?” tanya Zahdan semakin heran
“Itu juga yang mau ibu tanya?”
“tanya apa, bu?”
“Kau tidak sekolah hari ini?”
“Sekolah…? Hari ini libur Bu, Hari minggu”
“Zahdan… Zahdan. Mimpi apa kau semalam, belum tua kok, sudah lupa hari ini hari apa” Ibu mengerut dahi…
“Emangnya sekarang hari apa Bu?”
“Dengar Nak, yahhh…”
“Ya. Bu” wajah Zahdan memalas
“Hari ini adalah hari Senin”
“Apa Bu? Hari ini hari senin!” Zanda terkaget seperti mendengar bencana Alam
“Dan sekarang kau sudah terlambat ke sekolah” Mata Ibu berubah galak
“Tidakkkkk…” Teriak Zahdan sampai membangunkan kucing tetangga.
 Secepat kilat, Zahdan mencari seragam sekolahnya. Baju putih-biru yang menandakan statusnya sebagai anak SMP zaman now yang entah kemana ia simpan. Ia menuju ke kamarnya dan terus mencari seragam tersebut, sampai akhirnya, ia melihat baju tersebut tergletak tak berdaya di dalam keranjang pakaian kotor.
Melihat seragam sekolahnya masih kotor. Hati yang gelisah pun semakin tak berarah. Selain itu Ocehan ibu menjadi pelengkap acara kesialan tersebut. Pusing telah bercampur kopi pahit. Zahdan terus mencari solusi agar hari ini, ia bisa pergi ke sekolah, Sebab hari ini adalah ulangan harian Matematika. Apa lagi gurunya itu dikenal sebagai guru killer di sekolahnya dan tak segang-segang memberikan nilai rapor merah pada siswanya. “Aduh… Mati kayaknya hari ini kalau tidak ke sekolah” gumam Zahdan semakin resah.
Tiba-tiba dipikirannya terlintas sebuah ilham yang mengharuskan ia melakukan sebuah alternatif lain. Entah itu telah menjadi anugrah Tuhan, ia pun merasa bahwa mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Dan tanpa menunggu lama, langkah kakinya menuju ke kamar mandi sambil membawa seragam sekolahnya dan mengikuti kata hatinya tersebut. Setibanya disana, ia melihat sebuah cahaya terang bak permata di sudut kamar mandi itu, sebuah mesin cuci bewarna putih yang terdiam sepi tak berkata-kata. Ia perlahan berjalan menuju ke arah mesin cuci itu dan terus bersyukur.
“Mesin cuci peninggalan zaman prasejarah yang terbuat dari perasan cinta yang bertabur batu-batu marjan. Alat pengerinnya yang bagaikan tornado yang siap mengguncangkan Atlantis. Di dalam mesin penyucinya terdapat pusaran segitiga Bermuda yang terus membersihkan kapal-kapal yang melewatinya. Petir yang terus menyambar-nyambar memberikan cadangan energi tanpa batas untuk menghancur sisi dunia ke-4. Ketika mesin itu bergetar, terjadi gempa dan gunung meletus di mana-mana. Patahannya telah membelah daratan menjadi 5 benua. Hancur berkeping-keping” pikiran zahdan yang sempat menghayal. 
Zahdan membuka mesin cuci itu dengan penuh kehati-hatian. Rasa yang tak percaya diri terus mengganggu bayangan pikiran anak itu. Ia sangat bimbang, dan terus bertanya-tanya pada dirinya yang lain. Ia tak bisa melawan kehendak, apa lagi jika ia memutuskan untuk tidak ke sekolah maka ia pasti akan berurusan dengan guru killer, dan itu sangat merepotkan. Ia telah pasra pada keadaannya tersebut. Semua harapannya telah ia serahkan kepada Tuhan lewat mesin cuci itu. “Tuhan, mudahkan bagi hambamu ini. Ku mohon” kata yang tulus itu tak sengaja terucap oleh bibirnya yang telah menetaskan air mata.
Lemah dan lesuh tubuhnya membuka mesin cuci itu. Hasratnya telah terjatuh dalam suasana keheningan, saat mengambil seragam kotornya. Nafasnya, perlahan-lahan tak teratur. Ia terus menangis dan terhanyut dalam suasana pilu. Sabun deterjen terasa hangat di tangan, mengisaratkan kasih sayang yang telah hilang dan entah kemana ia pergi. Ketika air itu telah mengalir deras ke dalam mesin cuci, dewi hujan terus menangisi kesedihannya tanpa mempedulikan mentari bersinar. Dan tiba-tiba, dewa petir memukul tongkatnya hingga mengeluarkan aliran listrik bertegangan tinggi.
Mesin cuci itu pun mulai bergoyang. Getarannya membawa gelombang-gelombang positif pada benak zahdan. Seolah itu merupakan afirmasi hukum alam yang membawa kebahagian. Perlahan namun pasti, zahdan mulai merasakan ketenangan. Bahwasannya ia akan ke sekolah setelah semua itu.
5 menit kemudian, ia telah mengambil seragam sekolahnya yang telah bersih dari mesin cuci itu. Dan tanpa menunggu lama, zahdan langsung membilasnya ke dalam baskom yang berisi air bersih yang berasal dari mata air pilihan. Lalu, menambahkan pewangi pakaian secukupnya. Dan setelah itu, ia memerasnya dengan bijaksana dan tak mau terburu-buru.
Dan tibalah saatnya, masa penentuan hidupnya di hari itu. ia sangat berharap pada pengering mesin cuci itu dapat memberikan hasil yang maksimal. Dengan memejamkan mata, ia mengambil seragam sekolahnya itu lalu menaruhnya pada mesin pengering dengan penuh harapan. Zahdan pun memutar tombol mesin pengering itu yang dingin.
Angin berhembus kencang maha dasyat sekala kecil melalui putaran mesin pengering itu. Guncangannya pun telah membuat seisi ruangan kamar mandi tersebut menjadi bergema. Entah apa yang ada dipikiran Zahdan, ia hanya menunggu dan bersabar sampai mesin pengering itu menghentikan aksinya. Di saat-saat seperti itulah, anak itu terus berdoa dalam hati kecilnya yang polos “semoga seragam sekolahku menjadi kering agar diriku ini dapat bersekolah lagi”. Hembusan udara luar turut meramaikan penantian itu selama 2 menit berlangsung.
Dan penantian itu pun tiba. Ketika putaran mesin pengering itu berhenti  secara harmoni. Dan Zahdan pun merasa gugup terhadap apa yang akan terjadi di dalam mesin pengering yang penuh misterius itu. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya yang telah patah semangat dan pasrah. “Tak mungkin Tuhan memberikan cobaan pada hambanya melebihi batas kemampuannya”. Sampai akhirnya, Sang waktu dan keberanian yang akan menjawab semua itu. Ia memberanikan diri untuk mengambil seragam sekolahnya yang telah dinantinya itu.
Bak mentari yang bersinar terang. Begitu pula Bau harum yang mencium indrawi dibalik mesin pengering itu. Zahdan merasa bahagia sekali, ketika melihat seragam sekolahnya yang telah terbebas dari kutukan ratu kotoran. Ia sangat terharu dan tak menyangka, bahwa keajaiban mesin cuci itu telah menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan jiwa. Dan begitu bersyukurnya Zahdan, hingga ia pun tak mampu menahan tetesan air mata yang jatuh.
Akhir dari semua ini telah mengubah kisah hidup Zahdan. Ia pun pergi ke sekolah dengan mengenakan baju seragamnya yang bersih dan wajah yang ceriah. Meskipun ia agak terlambat ke sekolah tetapi ia diizinkan untuk mengikuti ulangan harian matematika dan mendapat nilai sempurna. “Terimakasih Tuhan, Engkau telah menjawab pengorbanan ku dengan kenangan manis penuh hikmah. Terimakasih Tuhan, aku sangat bersyukur dan bahagia sekali” kata Zahdan tersenyum. Sekian…   
    


Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

2 komentar

Tulis komentar
avatar
December 1, 2017 at 7:45 AM

Kreatif jg ceritanya. Sekedar saran, perhatikan cara penulisan tanda bacanya, letak spasinya jg. ��������

Reply
avatar
December 1, 2017 at 7:50 AM

Terimakasih sahabat atas sarannya. Ini sangat membantu.

Reply