Efek Mesin Cuci
(Fardin Yasin
Amura)
Perang sedang
berkecamuk, para prajurit pun sedang berlari untuk melawan musuh mereka.
Pedang terhunus saling melukai dan menebas kemana-mana. Si jubah hitam itu terus
memacu kuda yang ditungganginya lalu menancapkan tombak berlian pada benteng
perlawanan musuh. Di angkasa terdapat panah-panah api menghujani medang perang
dan tepat ke dada seorang pria tak berdosa. Pria itu berteriak dan terus
berteriak yang sampai-sampai membangunkan dewi hujan. Di saat sang Putri sedang
menangis, gemuruh menyuruh angin bertiup kencang yang membawa murka samudra.
Tiba-tiba terdengar suara Sang ombak bersuara…..
“cuihhhhhhh” bunyi
ciprakan air
“Ahhhhhh… tidakkkkk,
selamatkan aku”
“Takkkkkk….”
“Ahhhhhhhhhhh,, ampun…”
“Bangun… bangun…”
“Tidakkkkk…..
jangannnnn” tiba-tiba ia terbangun
“Bangun… Mimpi apa sih
kamu?” kata ibu
“Toke…. Cicak… Oeeeee…”
“Alahhh, terlambat kau
ngigo… sekarang sudah jam 07:12 pagi”
“Jam 07:12 pagi… Ohhhh,
”
“Pergi cuci mukamu dan
setelah itu sarapan pagi”
Dalam keadaan yang
kurang stabil, ia ke kamar mandi dan mencuci wajahnya yang penuh bekas air liur
hingga bersih. Wajah yang begitu cemberut menatap cermin yang terbasah oleh
percikan air, dan terus bertanya pada hati kecilnya, “apa salah dan
dosaku?”. Ia pun masih sangat
kebingungan, kenapa Ibu membangunkannya pake cara siram air. Rasanya itu kayak
ke sambar gledek, apa lagi bangunnya karna mimpi buruk. “Sumpah, kali ini ibu
telah merusak hari minggu barokah”.
Seakan semangat ini
telah sirna, mata pun mendayu-dayu memanggil si rasa Malas. Ia berjalan seperti
menyerong kedua kakinya tak berimbang menuju meja makan. Moodnya pun seolah telah dipatuk ayam atau mungkin ke cebur di gorong-gorong samping rumah tetangga.
Kata para orang malas yang bijak sih, mending diputusin cewek dari pada harus
disiram pake air cucian beras.
Wajah yang makin tak
berwarna ketika melihat ibu tersenyum dan adek sepupunya tertawa.
Mengisyaratkan harga diri seorang anak telah dijual oleh ibu sendiri hanya
karena ciprakan cucian beras. Apa lagi
saat itu, ia lagi dikena masa puber kelas elit, sebenarnya tidak ada
hubungannya dengan masa puber, tetapi lantaran terlalu takutnya pada si imut
yang terus menempel di pipi sehingga ia memutuskan untuk tetap menjaga
penampilan dan kebersihan wajah. Nah… sebenarnya juga, itu hanyalah provokasi yang terus meracuni pikiran, anak
berusia 15 Tahun itu.
Zahdan Putra Pangestu,
begitulah ia dipanggil. Namun bagi sebagian orang, ia sering dipanggil Zahdan.
Anak yang memiliki postur tubuh tegap dan sedikit gemuk itu terus bersabar
melihat suasana yang tidak dikenan di hati itu. Sambil menghela nafas panjang,
ia terus memperhatikan jam dinding pukul 07:34 pagi di samping meja makan
sebelah kanan. Rasanya ada yang ganjil pada hari itu. Tidak seperti biasanya,
hari ini terasa sepi dan tak ramai seperti yang ia rasakan sebelumnya. Ibu juga
merasa keherangan melihat zahdan kebingungan. Di samping itu, ada yang ingin
ibu sampaikan kepadanya tetapi ibu tetap menunggu sampai Zahdan selesai sarapan
pagi.
Ketika Zahdan semakin
merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia pun menghentikan sejenak sarapan pagi itu,
lalu bertanya pada ibu.
“Bu… Rasanya ada yang
aneh pagi ini”
“Ane kenapa..?” balas
ibu
“kok, dari tadi aku
perhatikan tidak ada Candra, kemana perginya itu anak, Bu?” tanya Zahdan
semakin heran
“Itu juga yang mau ibu
tanya?”
“tanya apa, bu?”
“Kau tidak sekolah hari
ini?”
“Sekolah…? Hari ini
libur Bu, Hari minggu”
“Zahdan… Zahdan. Mimpi
apa kau semalam, belum tua kok, sudah lupa hari ini hari apa” Ibu mengerut
dahi…
“Emangnya sekarang hari
apa Bu?”
“Dengar Nak, yahhh…”
“Ya. Bu” wajah Zahdan
memalas
“Hari ini adalah hari
Senin”
“Apa Bu? Hari ini hari
senin!” Zanda terkaget seperti mendengar bencana Alam
“Dan sekarang kau sudah
terlambat ke sekolah” Mata Ibu berubah galak
“Tidakkkkk…” Teriak
Zahdan sampai membangunkan kucing tetangga.
Secepat kilat, Zahdan
mencari seragam sekolahnya. Baju putih-biru yang menandakan statusnya sebagai
anak SMP zaman now yang entah kemana ia simpan. Ia menuju ke kamarnya dan terus
mencari seragam tersebut, sampai akhirnya, ia melihat baju tersebut tergletak
tak berdaya di dalam keranjang pakaian kotor.
Melihat seragam
sekolahnya masih kotor. Hati yang gelisah pun semakin tak berarah. Selain itu
Ocehan ibu menjadi pelengkap acara kesialan tersebut. Pusing telah bercampur
kopi pahit. Zahdan terus mencari solusi agar hari ini, ia bisa pergi ke
sekolah, Sebab hari ini adalah ulangan harian Matematika. Apa lagi gurunya itu
dikenal sebagai guru killer di sekolahnya dan tak segang-segang memberikan
nilai rapor merah pada siswanya. “Aduh… Mati kayaknya hari ini kalau tidak ke
sekolah” gumam Zahdan semakin resah.
Tiba-tiba dipikirannya
terlintas sebuah ilham yang mengharuskan ia melakukan sebuah alternatif lain.
Entah itu telah menjadi anugrah Tuhan, ia pun merasa bahwa mungkin ini adalah
jalan yang terbaik. Dan tanpa menunggu lama, langkah kakinya menuju ke kamar
mandi sambil membawa seragam sekolahnya dan mengikuti kata hatinya tersebut.
Setibanya disana, ia melihat sebuah cahaya terang bak permata di sudut kamar
mandi itu, sebuah mesin cuci bewarna putih yang terdiam sepi tak berkata-kata.
Ia perlahan berjalan menuju ke arah mesin cuci itu dan terus bersyukur.
“Mesin cuci peninggalan
zaman prasejarah yang terbuat dari perasan cinta yang bertabur batu-batu
marjan. Alat pengerinnya yang bagaikan tornado yang siap mengguncangkan
Atlantis. Di dalam mesin penyucinya terdapat pusaran segitiga Bermuda yang
terus membersihkan kapal-kapal yang melewatinya. Petir yang terus
menyambar-nyambar memberikan cadangan energi tanpa batas untuk menghancur sisi
dunia ke-4. Ketika mesin itu bergetar, terjadi gempa dan gunung meletus di
mana-mana. Patahannya telah membelah daratan menjadi 5 benua. Hancur
berkeping-keping” pikiran zahdan yang sempat menghayal.
Zahdan membuka mesin
cuci itu dengan penuh kehati-hatian. Rasa yang tak percaya diri terus
mengganggu bayangan pikiran anak itu. Ia sangat bimbang, dan terus bertanya-tanya
pada dirinya yang lain. Ia tak bisa melawan kehendak, apa lagi jika ia
memutuskan untuk tidak ke sekolah maka ia pasti akan berurusan dengan guru
killer, dan itu sangat merepotkan. Ia telah pasra pada keadaannya tersebut.
Semua harapannya telah ia serahkan kepada Tuhan lewat mesin cuci itu. “Tuhan,
mudahkan bagi hambamu ini. Ku mohon” kata yang tulus itu tak sengaja terucap
oleh bibirnya yang telah menetaskan air mata.
Lemah dan lesuh
tubuhnya membuka mesin cuci itu. Hasratnya telah terjatuh dalam suasana
keheningan, saat mengambil seragam kotornya. Nafasnya, perlahan-lahan tak
teratur. Ia terus menangis dan terhanyut dalam suasana pilu. Sabun deterjen
terasa hangat di tangan, mengisaratkan kasih sayang yang telah hilang dan entah
kemana ia pergi. Ketika air itu telah mengalir deras ke dalam mesin cuci, dewi
hujan terus menangisi kesedihannya tanpa mempedulikan mentari bersinar. Dan
tiba-tiba, dewa petir memukul tongkatnya hingga mengeluarkan aliran listrik
bertegangan tinggi.
Mesin cuci itu pun mulai
bergoyang. Getarannya membawa gelombang-gelombang positif pada benak zahdan.
Seolah itu merupakan afirmasi hukum alam yang membawa kebahagian. Perlahan
namun pasti, zahdan mulai merasakan ketenangan. Bahwasannya ia akan ke sekolah
setelah semua itu.
5 menit kemudian, ia
telah mengambil seragam sekolahnya yang telah bersih dari mesin cuci itu. Dan
tanpa menunggu lama, zahdan langsung membilasnya ke dalam baskom yang berisi
air bersih yang berasal dari mata air pilihan. Lalu, menambahkan pewangi
pakaian secukupnya. Dan setelah itu, ia memerasnya dengan bijaksana dan tak mau
terburu-buru.
Dan tibalah saatnya,
masa penentuan hidupnya di hari itu. ia sangat berharap pada pengering mesin
cuci itu dapat memberikan hasil yang maksimal. Dengan memejamkan mata, ia
mengambil seragam sekolahnya itu lalu menaruhnya pada mesin pengering dengan
penuh harapan. Zahdan pun memutar tombol mesin pengering itu yang dingin.
Angin berhembus kencang
maha dasyat sekala kecil melalui putaran mesin pengering itu. Guncangannya pun telah
membuat seisi ruangan kamar mandi tersebut menjadi bergema. Entah apa yang ada
dipikiran Zahdan, ia hanya menunggu dan bersabar sampai mesin pengering itu
menghentikan aksinya. Di saat-saat seperti itulah, anak itu terus berdoa dalam
hati kecilnya yang polos “semoga seragam sekolahku menjadi kering agar diriku
ini dapat bersekolah lagi”. Hembusan udara luar turut meramaikan penantian itu
selama 2 menit berlangsung.
Dan penantian itu pun
tiba. Ketika putaran mesin pengering itu berhenti secara harmoni. Dan Zahdan pun merasa gugup
terhadap apa yang akan terjadi di dalam mesin pengering yang penuh misterius
itu. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya yang telah patah semangat dan pasrah.
“Tak mungkin Tuhan memberikan cobaan pada hambanya melebihi batas kemampuannya”.
Sampai akhirnya, Sang waktu dan keberanian yang akan menjawab semua itu. Ia
memberanikan diri untuk mengambil seragam sekolahnya yang telah dinantinya itu.
Bak mentari yang
bersinar terang. Begitu pula Bau harum yang mencium indrawi dibalik mesin
pengering itu. Zahdan merasa bahagia sekali, ketika melihat seragam sekolahnya
yang telah terbebas dari kutukan ratu kotoran. Ia sangat terharu dan tak
menyangka, bahwa keajaiban mesin cuci itu telah menyelamatkan hidupnya dari
keterpurukan jiwa. Dan begitu bersyukurnya Zahdan, hingga ia pun tak mampu
menahan tetesan air mata yang jatuh.
Akhir dari semua ini
telah mengubah kisah hidup Zahdan. Ia pun pergi ke sekolah dengan mengenakan
baju seragamnya yang bersih dan wajah yang ceriah. Meskipun ia agak terlambat
ke sekolah tetapi ia diizinkan untuk mengikuti ulangan harian matematika dan
mendapat nilai sempurna. “Terimakasih Tuhan, Engkau telah menjawab pengorbanan
ku dengan kenangan manis penuh hikmah. Terimakasih Tuhan, aku sangat bersyukur
dan bahagia sekali” kata Zahdan tersenyum. Sekian…


2 komentar
Tulis komentarKreatif jg ceritanya. Sekedar saran, perhatikan cara penulisan tanda bacanya, letak spasinya jg. ��������
ReplyTerimakasih sahabat atas sarannya. Ini sangat membantu.
Reply