11/23/2017

Cerpen Hayalan Hutan Lambusango Dunia Penyihir



Mentari di Ufuk Timur Part 1
(Oleh: Fardin Yasin Amura)


Perjalanan yang begitu melelahkan, ketika pegunungan tertinggi kedua setelah Everest yang hendak akan didaki. Tak kuasa untuk berhenti karena memang telah terfikir olehnya betapa gagahnya seorang pendaki dimata orang lain. Kisah pencinta alam yang menikmati perjalanan Sang Penjelajah yang hanya untuk mengagumi ciptaan Tuhan. “Wah…sungguh indah ciptaan Tuhan, bersyukur sekali bisa melihatnya langsung” kata si penjelajah itu yang bernama Rahul ketika melihat pegunungan La kalowulu.  Menurut cerita masyarakat setempat bahwa disekitar pegunungan itu menyimpan banyak misteri sebuah perkampungan ERFEST. 

ERFEST merupakan surga tersembunyi yang berada di negeri seribu benteng, Buton. Tempat itu masih menjadi misteri bagi masyarakat setempat karena hanyalah orang-orang beruntung yang bisa menemukan tempat itu. Tempat dimana hal mustahil bisa terjadi, dunia yang penuh sejuta keajaiban dan negeri para bidadari. ERFEST adalah dunia lain yang penuh kedamain, “sungguh bahagia sekali bila aku bisa menemukan dunia yang seindah itu” kata seorang masyarakat setempat tentang ERFEST. Tetapi Rahul tidak mempedulikan omongan orang-orang itu, baginya itu hanyalah dongeng yang sengaja dibuat-buat untuk menghibur anak kecil. “Emang ada dunia seperti itu di zaman sekarang, ada-ada saja cerita orang zaman dulu”. 

Perjalanan itu membutuhkan waktu 3 bulan dan bahkan lebih untuk bisa sampai disana, mengingat tempat itu berada di tengah-tengah hutan terlarang Lambusango yang sangat berbahaya. Hanya yang memiliki nyali besar yang nekat pergi ke hutan itu tetapi tidak sedikit pula yang tak kembali setelah memasukinya. Banyak hewan buas didalam sana, apalagi kondisi hutan yang ekstrim sangatlah tidak mudah membuat para penjelajah untuk menemukan jalan untuk kembali. Namun bagi Rahul itu bukanlah masalah sebab ia pernah menjelajah hutan Amazon seorang diri selama 6 bulan dan ia bisa pulang dengan selamat dan membawa prestasi tentang penemuannya yang sempat menemukan habitat Anakonda ular terbesar di dunia. Ia sangat terkenal dengan kepadaian menjelajahnya. Entah apa yang ia pikirkan, tak sedikit pula yang melarangnya untuk mengambil resiko menjelajah pegunungan La koluwulu salah satunya ibunda tercinta, Ibunda Ades.  

Diterik matahari yang panas ia berjalan kaki menempuh perjalan jauh dengan rasa haus dan dahaga. Jalanan yang bermedan bebatuan terkadang menyulitkan ia untuk melewatinya tetapi jiwa petualangannya terus memotivasi dirinya untuk bergerak maju tanpa mengenal lelah. Setelah memakan waktu seharian, ia akhirnya tiba di pinggiran hutan terlarang lambusango. Hutan itu terlihat sangat lebat dan mengerikan, cahaya mentari pun tak dapat menembusnya. Penuh kegegelapan yang tak bisa dijelaskan melalui kata-kata. Sesekali terdengar suara burung hantu, jangkrit, kodok-kodok dan bahkan lolonan serigala yang membuat bulu kuduk merinding, mungkin masih banyak lagi misteri yang tersembunyi dibalik hutan tersebut. Rahul yang awalnya sangat ketakutan melihat pemandangan yang tak menyedapkan mata, tetapi karena prinsip hidupnya yang pantang menyerah telah meringankan langkah ini untuk bergerak maju. “semangat…semangat…” ujar Rahul sambil memotivasi dirinya. 

Ia pun memasuki hutan terlarang itu dengan penuh semangat meskipun hasrat ini sangat menolak keinginannya itu. “apa pun yang terjadi disana, itu sudah menjadi takdir Tuhan bahkan mati sekalipun” gumannya. Terasa dingin menusuk tulang, kegelapan hutan itu membuatnya kesulitan bernafas belum lagi bila sewaktu-waktu  ia bisa jadi bertemu hewan buas yang akan mengancam nyawanya. Rahul mengambil senter yang ada di tas ransel merahnya untuk menerangi hutan yang gelap gulita itu. Ia berjalan penuh kehati-hatian melewati semak-semak setinggi 3 meter dan tanah berlumpur hitam pekat. Tak ada jalan buatan yang bisa dilewati sebab semua telah dipenuhi pepohonan, rumput-rumput berduri, tumbuhan rotang dan pohon aneh lainnya. Satu-satunya penunjuk arah yang selalu menemaninya hanyalah berupa kompas antik pemberian kakeknya yang juga merupakan seorang penjelajah tangguh dan pernah mengililingi benua antartika. Perjalanan sebenarnya pun baru saja dimulai antara hidup dan mati.

Hutan terlarang lambusango adalah tempat yang konon merupakan tempat persembunyian para penyihir. Dahulu di tempat itulah banyak terdapat penyihir-penyihir dibantai besar-besaran oleh The King Of Nadzar penguasa benua Pangea pada tahun 20.000 SM karena ulah mereka yang banyak membunuh anak kecil yang tidak berdosa. Menurut catatan sejarah pembantaian itu dilakukan atas nama kemanusiaan sebab para penyihir itu telah melanggar perjanjian I-zPMAL-a yang berisikan perdamaian antara bangsa manusia dan bangsa penyihir. Tetapi penyihir telah melanggarnya, juga membakar naska perjanjian itu dengan naif sehingga mengakibatkan kemarahan sang Raja. Kejadian tersebut membuat hutan itu menjadi hutan terlarang disetiap dinasti-disnati yang berkuasa. 

Perjalanan berhari-hari telah ia lalui hampir lebih 7 bulan lamanya ia menyusuri hutan terlarang. Tubuhnya dari hari ke hari semakin melemah, penuh luka akibat tumbuhan semak-semak berduri yang banyak tumbuh liar diantara lebaknya pepohonan yang menjulan tinggi.  Ia terserang penyakit influenza yang mengganggu pernapasannya. Penderitaan demi penderitaan ia alami dengan penuh kesabaran, tak mungkin ia kembali sebab kegelapan hutan itu telah menutupi arah jalan pulang di setiap langkahnya. Kebingungan selalu menyelimuti pikiran sadarnya. Ia terus berjalan dan terus berjalan sesekali ia mengganti baterei senter yang ia gunakan namun tanpa sadar pesediaan batereinya pun kian menipis hingga suatu ketika ia terjatuh di dalam jurang yang tinggi. Kepalanya terbentur terkena hantaman keras batu yang tajam sampai meneteskan darah. Para hantu-hantu menyambut darah merah yang segar itu. Ia pun tak sadarkan diri.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Ia telah berada di alam mimpinya, pasir putih, hempasan ombak, Si penjelajah itu telah pergi bersama perahu kayu yang berlayar entah kemana. Keheningan itu telah mengubah suasananya.
“Aku dimana…Dimana aku ini?”
“siapakah sosok itu……..”
“apakah itu ibunda”
“Ibu, ibu, ibu…”
“aku minta ma’af Ibunda Ades karena tidak mematuhi perintahmu” tiba-tiba cahaya datang menyilaukan mata.
Api itu terus menyalah membakar semua ranting-ranting kayu di dalam tungku. Dan terlihat seorang pemudah gagah yang sedang menikmati minuman panas sambil menatapi nyala api yang menghangatkan tubuhnya. Tanpa kata, ia terlihat sangat sedih namun ia terlihat dewasa dan pandai. Rasa-rasanya ia telah menjalani hidup ini penuh cobaan tapi air mata itu seperti bayangan kenangan.
“ternyata engkau sudah bangun….” Kata pemuda itu
“apa yang terjadi padaku”
“engkau tadi terjatuh di jurang yang cukup tinggi”
“apa…? Aku terjatuh di jurang?”
“engkau tak apa-apa karena aku telah mengobatimu”
Rahul yang kebingungan melihat sekujur tubuhnya telah sembuh tanpa bekas luka sedikitpun.
“apa yang engkau lakukan disini wahai manusia”
“aku adalah seorang penjelajah yang hendak ingin menaklukkan gunung La Koluwulu” ujar Rahul yang masih kebingungan
“celaka… kau akan mati disini”
“apa yang kau ucapkan?”
“apakah engkau tak mengetahui bila ini adalah dunia para penyihir”
“apa maksud ucapanmu itu, aku tak mengerti”
“kau telah salah melangkah wahai anak adam”
“siapakah engkau? dan apa yang kau lakukan disini”
“aku adalah Restu Dermawan dan aku adalah penyihir, penjaga hutan belantara ini”
“penyihir….?”
“Yah… aku adalah penyihir”
Tiba-tiba penyihir itu kemudian menaburkan bubuk mantra yang membuatnya terjatuh pingsan dan penyihir itu pun menghilang tanpa jejak.

Keeskokan harinya, Rahul mendengar gemercik air, ia terbangun dan merasa agak pening di kepala. Mentari bersinar terang membuat matanya menjadi silau. Tempat itu tak seperti hutan terlarang lambusango yang dipenuhi kegelapan. Pemandangan itu terlihat begitu berbeda dan menajubkan, terlihat pula taman-taman yang menawan di mata begitu juga bunga-bunga indah berwarna-warni. Udara yang begitu sejuk membuatnya terasa segar sekali. Mata air yang sangat jernih mengalirkan sungai-sungai indah. Namun tempat itu penuh keganjilan sebab ia sama sekali tak melihat pegunungan La Koluwulu lagi. Hal itu membuatnya semakin kebingungan tentang di mana keberadaan ia sekarang. 

Gemercik itu berasal dari air terjun 1.000 warna yang membentang seluas mata memandang. Airnya pun mengalirkan 7 anak sungai yang esoktis. Tak berlangsung lama seorang pria bersayap  terbang mendekati Rahul dari arah timur. Ia terkagum-kagum melihat pria itu yang semakin mendekatiya dan memiliki wajah menawan, tampak seperti malaikat. Dan sampai akhirnya pun mata mereka telah semakin dekat yang memandangi satu sama lain.
“Siapa Engkau, wahai pria asing” kata pemuda menawan itu
“Aku adalah Rahul, seorang penjelajah”
“Mengapa engkau ada disini? Cepatlah kembali sebab tempat ini takkan aman untukmu”
“Tapi aku tak bisa kembali lagi”
“Engkau terlalu naïf, Rahul… pulanglah, ini adalah dunia ERVEST, dunia para penyihir”
“aku tak mengerti apa yang engkau katakan”
“pulanglah, wahai sang Penjelajah”
“aku tak akan kembali sebelum aku menaklukkan pegunungan La koluwulu” ujaran Rahul akan prinsip hidupnya.
“aku berlepas diri darimu, wahai sang Penjelajah. Ketahuilah aku adalah penjaga air terjun ini, aku adalah OPICK”
Pria itu sekejab mata menghilang tanpa jejak. Rahul mencoba mencari ke segala arah tapi ia tak melihatnya sama sekali. Ketakutannya tak bisa membohongi wajahnya yang polos. Namun meskipun demikian ia tak gentar untuk menghadapi tantangan di dunia penyihir, negeri ERFEST.

Ketika sekian lama ia berjalan, tibalah ia melihat sebuah gerbang yang sangat indah. Gerbang itu terbuat dari emas dan dihiasi 7 gambar naga berbagai bentuk. Gerbang itu sangatlah tinggi kira-kira setinggi 927 meter yang menjulang tinggi ke atas awan dan juga lebar yang hanya bisa ditempuh perjalanan 90 tahun lebih lamanya baru bisa sampai ke ujung. Tampak gerbang itu sangatlah sunyi tanpa penjaga sama sekali. Terlebih lagi gerbang itu di kelilingi api ungu yang menjulang tinggi tanpa batas dan salju yang sangat membeku. “apakah ini bagian misteri dunia penyihir yang dikatakan orang-orang itu?” Rahul pun mendekati gerbang itu dengan penuh penasaran.

Ia terus berjalan mendekati gerbang itu selama berhari-hari namun belum juga sampai kesana. Ia kehabisan air dan persediaan makanan sehingga membuat luka yang telah sembuh kembali bersemi. Ia mengalami sakit parah dan dehidrasi tinggi. Matanya terbelalak keluar begitu pula tubuhnya yang kurus kering. Langkah kakinya seiring hari bertemu hari tak mampu lagi menompang tubuhnya yang kian renta. Mati rasanya, ia tak mampu lagi melanjutkan perjalanan tanpa arah  ini namun entah mengapa hasratnya selalu menolak untuk berhenti dan pasrah. Prinsip hidup yang begitu kuat membuat ia tak mudah untuk menyerah meskipun harus mati di pertengahan jalan. 

Perjalanan yang sangat melelahkan banyak rintangan telah dihadapi olehnya namun belum menuai hasil, semua hanyalah ketidak pastian yang berlarut-larut. Hatinya seakan menangis menerima semua kenyataan. Dan nasi telah menjadi bubur. Namun ia selalu percaya di setiap ada kesulitan pasti ada kebahagiaan, mungkin ini hanyalah proses yang panjang dan sangat menyakitkan. “Umur bisa membuat kita dewasa tetapi hanyalah masalah yang bisa mendewasakan diri”, seperti besi sebelum ia menjadi barang yang bernilai tinggi ia harus melewati proses yang panjang entah itu ia harus dipalu berkali-kali, dipanaskan di dalam bara api lalu kemudian dipalu-palu selama berhari-hari. Proses itu selalu dilaluinya tanpa mengeluh sampai akhirnya ia menjadi barang yang sangat berharga dan bernilai bagi orang banyak. Inilah hidup terkadang masalah seakan membuat hati ini ingin segera mengakhiri hidup  secepatnya. Dan tak sedikit pula yang melakukannya atau terus bersabar lalu menjadi orang yang sukses. Hidup itu terlalu sederhana untuk diamati tetapi berat untuk dijalani. Kira-kira seperti itulah isi hati sang penjelajah sewaktu bergumam, ia menatapi hidup dengan santai dan menjalaninya penuh semangat tanpa kenal lelah. 

Tubuh yang renta ini tak mampu lagi ia melangkah lebih jauh lagi. Sudah lebih dari 23 hari ia berjalan menuju gerbang itu tetapi tak kunjung sampai di sana. Matanya seakan berkunang-kunang dan membuatnya ingin terlelap. Tampak kedua langkah kakinya kian tak lagi seimbang hingga suatu ketika perlahan tiba- tiba “Bruukkkkkkkkkk….” Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Suara hatinya terus meminta pertolongan namun sangatlah mustahil sebab ini adalah dunia penyihir. Detik memukul detik, dunia itu semakin menghilang tanpa membekas hingga mata itu menutup tanpa cahaya dan hanya mengisakan bayangan hitam. 

Bayangan itu semakin terlihat samar, cahaya putih menerpa arah tanpa batas di sebuah pintu kecil yang terbuat dari kayu kering berwarna kuning kecoklatan. Dari situ ia mencium aroma bidadari bak kasturi kasablanka bercampur bunga melati telaga di balik pintu yang sederhana itu. Saat ia membuka pintu itu dengan hati penuh tanya, seketika itulah ia melihat bidadari surga  tersenyum bersipu malu. Ia tak tahu lagi cara mengedipkan mata sebab bidadari itu sangat cantik dan menawan. Sesekali ia menetaskan air liur tanpa sadar, ia begitu kagum melihat bidadari itu sebab baru pertama kali ia bertemu dengan cewek yang sangat cantik selama hidupnya. Bidadari itu menyapanya dengan suara yang lembut nan indah.
“Apakah engkau Rahul”
“iya aku adalah Rahul, tapi siapakah engkau?”
“aku adalah jodohmu”
“Jodohku….Tidakkkkk, tidak mungkin,,,aku tak percaya”
“Mengapa engkau tak mempercayai ku?”
“Sebab engkau terlalu cantik sedangkan aku hanyalah pria biasa”
“walaupun engkau menolakku tapi aku tetap adalah jodoh yang telah ditakdirkan”
“Apakah engkau bercanda?” ujarnya tidak percaya
“Rahul dengarkanlah aku, aku akan menunggumu. Temui aku Rahul secepatnya”
“Menemuimu… Lantas apa yang akan terjadi bila aku tidak menemuimu”
“sebab aku akan dinikahkan dengan raja Kegelapan yang telah mengancam ayahku, Raja ERFEST”
“Raja kegelapan…” ujar Rahul kebingungan
“Yah… Raja kegelapan. Merekalah yang telah merusak dunia penyihir”
“Tapi apa hubungannya denganku”
“Karna hanya engkau wahai jodohku yang bisa mengalahkannya”
“Sumpah aku masih bingung dengan semua ini, trus bagaimana aku bisa menemuimu sedangkan aku tak tahu apa-apa dengan negeri ini?”
“Ikutilah kata hatimu sebab ia tak pernah bohong”
“Kata hatiku?”
“Iya Rahul...cepatlah temui aku, bila tidak dunia penyihir akan jatuh dalam kegelapan”

Bersambung…

Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.