Mentari di Ufuk Timur Part 1
Perjalanan yang begitu
melelahkan, ketika pegunungan tertinggi kedua setelah Everest yang hendak akan
didaki. Tak kuasa untuk berhenti karena memang telah terfikir olehnya betapa
gagahnya seorang pendaki dimata orang lain. Kisah pencinta alam yang menikmati
perjalanan Sang Penjelajah yang hanya untuk mengagumi ciptaan Tuhan.
“Wah…sungguh indah ciptaan Tuhan, bersyukur sekali bisa melihatnya langsung”
kata si penjelajah itu yang bernama Rahul ketika melihat pegunungan La
kalowulu. Menurut cerita masyarakat
setempat bahwa disekitar pegunungan itu menyimpan banyak misteri sebuah
perkampungan ERFEST.
ERFEST merupakan surga
tersembunyi yang berada di negeri seribu benteng, Buton. Tempat itu masih
menjadi misteri bagi masyarakat setempat karena hanyalah orang-orang beruntung
yang bisa menemukan tempat itu. Tempat dimana hal mustahil bisa terjadi, dunia
yang penuh sejuta keajaiban dan negeri para bidadari. ERFEST adalah dunia lain
yang penuh kedamain, “sungguh bahagia sekali bila aku bisa menemukan dunia yang
seindah itu” kata seorang masyarakat setempat tentang ERFEST. Tetapi Rahul
tidak mempedulikan omongan orang-orang itu, baginya itu hanyalah dongeng yang
sengaja dibuat-buat untuk menghibur anak kecil. “Emang ada dunia seperti itu di
zaman sekarang, ada-ada saja cerita orang zaman dulu”.
Perjalanan itu
membutuhkan waktu 3 bulan dan bahkan lebih untuk bisa sampai disana, mengingat
tempat itu berada di tengah-tengah hutan terlarang Lambusango yang sangat
berbahaya. Hanya yang memiliki nyali besar yang nekat pergi ke hutan itu tetapi
tidak sedikit pula yang tak kembali setelah memasukinya. Banyak hewan buas didalam
sana, apalagi kondisi hutan yang ekstrim sangatlah tidak mudah membuat para penjelajah
untuk menemukan jalan untuk kembali. Namun bagi Rahul itu bukanlah masalah
sebab ia pernah menjelajah hutan Amazon seorang diri selama 6 bulan dan ia bisa
pulang dengan selamat dan membawa prestasi tentang penemuannya yang sempat
menemukan habitat Anakonda ular terbesar di dunia. Ia sangat terkenal dengan
kepadaian menjelajahnya. Entah apa yang ia pikirkan, tak sedikit pula yang
melarangnya untuk mengambil resiko menjelajah pegunungan La koluwulu salah
satunya ibunda tercinta, Ibunda Ades.
Diterik matahari yang
panas ia berjalan kaki menempuh perjalan jauh dengan rasa haus dan dahaga. Jalanan
yang bermedan bebatuan terkadang menyulitkan ia untuk melewatinya tetapi jiwa
petualangannya terus memotivasi dirinya untuk bergerak maju tanpa mengenal
lelah. Setelah memakan waktu seharian, ia akhirnya tiba di pinggiran hutan
terlarang lambusango. Hutan itu terlihat sangat lebat dan mengerikan, cahaya
mentari pun tak dapat menembusnya. Penuh kegegelapan yang tak bisa dijelaskan
melalui kata-kata. Sesekali terdengar suara burung hantu, jangkrit, kodok-kodok
dan bahkan lolonan serigala yang membuat bulu kuduk merinding, mungkin masih
banyak lagi misteri yang tersembunyi dibalik hutan tersebut. Rahul yang awalnya
sangat ketakutan melihat pemandangan yang tak menyedapkan mata, tetapi karena
prinsip hidupnya yang pantang menyerah telah meringankan langkah ini untuk
bergerak maju. “semangat…semangat…” ujar Rahul sambil memotivasi dirinya.
Ia pun memasuki hutan
terlarang itu dengan penuh semangat meskipun hasrat ini sangat menolak keinginannya
itu. “apa pun yang terjadi disana, itu sudah menjadi takdir Tuhan bahkan mati
sekalipun” gumannya. Terasa dingin menusuk tulang, kegelapan hutan itu
membuatnya kesulitan bernafas belum lagi bila sewaktu-waktu ia bisa jadi bertemu hewan buas yang akan
mengancam nyawanya. Rahul mengambil senter yang ada di tas ransel merahnya
untuk menerangi hutan yang gelap gulita itu. Ia berjalan penuh kehati-hatian
melewati semak-semak setinggi 3 meter dan tanah berlumpur hitam pekat. Tak ada
jalan buatan yang bisa dilewati sebab semua telah dipenuhi pepohonan,
rumput-rumput berduri, tumbuhan rotang dan pohon aneh lainnya. Satu-satunya
penunjuk arah yang selalu menemaninya hanyalah berupa kompas antik pemberian
kakeknya yang juga merupakan seorang penjelajah tangguh dan pernah mengililingi
benua antartika. Perjalanan sebenarnya pun baru saja dimulai antara hidup dan
mati.
Hutan terlarang lambusango
adalah tempat yang konon merupakan tempat persembunyian para penyihir. Dahulu
di tempat itulah banyak terdapat penyihir-penyihir dibantai besar-besaran oleh
The King Of Nadzar penguasa benua Pangea pada tahun 20.000 SM karena ulah
mereka yang banyak membunuh anak kecil yang tidak berdosa. Menurut catatan
sejarah pembantaian itu dilakukan atas nama kemanusiaan sebab para penyihir itu
telah melanggar perjanjian I-zPMAL-a yang berisikan perdamaian antara bangsa
manusia dan bangsa penyihir. Tetapi penyihir telah melanggarnya, juga membakar
naska perjanjian itu dengan naif sehingga mengakibatkan kemarahan sang Raja. Kejadian
tersebut membuat hutan itu menjadi hutan terlarang disetiap dinasti-disnati
yang berkuasa.
Perjalanan berhari-hari
telah ia lalui hampir lebih 7 bulan lamanya ia menyusuri hutan terlarang.
Tubuhnya dari hari ke hari semakin melemah, penuh luka akibat tumbuhan
semak-semak berduri yang banyak tumbuh liar diantara lebaknya pepohonan yang
menjulan tinggi. Ia terserang penyakit
influenza yang mengganggu pernapasannya. Penderitaan demi penderitaan ia alami
dengan penuh kesabaran, tak mungkin ia kembali sebab kegelapan hutan itu telah
menutupi arah jalan pulang di setiap langkahnya. Kebingungan selalu menyelimuti
pikiran sadarnya. Ia terus berjalan dan terus berjalan sesekali ia mengganti
baterei senter yang ia gunakan namun tanpa sadar pesediaan batereinya pun kian menipis
hingga suatu ketika ia terjatuh di dalam jurang yang tinggi. Kepalanya
terbentur terkena hantaman keras batu yang tajam sampai meneteskan darah. Para
hantu-hantu menyambut darah merah yang segar itu. Ia pun tak sadarkan diri.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Ia telah berada di alam
mimpinya, pasir putih, hempasan ombak, Si penjelajah itu telah pergi bersama
perahu kayu yang berlayar entah kemana. Keheningan itu telah mengubah suasananya.
“Aku dimana…Dimana aku
ini?”
“siapakah sosok
itu……..”
“apakah itu ibunda”
“Ibu, ibu, ibu…”
“aku minta ma’af Ibunda
Ades karena tidak mematuhi perintahmu” tiba-tiba cahaya datang menyilaukan
mata.
Api itu terus menyalah
membakar semua ranting-ranting kayu di dalam tungku. Dan terlihat seorang
pemudah gagah yang sedang menikmati minuman panas sambil menatapi nyala api
yang menghangatkan tubuhnya. Tanpa kata, ia terlihat sangat sedih namun ia
terlihat dewasa dan pandai. Rasa-rasanya ia telah menjalani hidup ini penuh
cobaan tapi air mata itu seperti bayangan kenangan.
“ternyata engkau sudah bangun….”
Kata pemuda itu
“apa yang terjadi
padaku”
“engkau tadi terjatuh di
jurang yang cukup tinggi”
“apa…? Aku terjatuh di
jurang?”
“engkau tak apa-apa
karena aku telah mengobatimu”
Rahul yang kebingungan
melihat sekujur tubuhnya telah sembuh tanpa bekas luka sedikitpun.
“apa yang engkau
lakukan disini wahai manusia”
“aku adalah seorang
penjelajah yang hendak ingin menaklukkan gunung La Koluwulu” ujar Rahul yang
masih kebingungan
“celaka… kau akan mati
disini”
“apa yang kau ucapkan?”
“apakah engkau tak
mengetahui bila ini adalah dunia para penyihir”
“apa maksud ucapanmu
itu, aku tak mengerti”
“kau telah salah
melangkah wahai anak adam”
“siapakah engkau? dan
apa yang kau lakukan disini”
“aku adalah Restu
Dermawan dan aku adalah penyihir, penjaga hutan belantara ini”
“penyihir….?”
“Yah… aku adalah
penyihir”
Tiba-tiba penyihir itu
kemudian menaburkan bubuk mantra yang membuatnya terjatuh pingsan dan penyihir
itu pun menghilang tanpa jejak.
Keeskokan harinya, Rahul
mendengar gemercik air, ia terbangun dan merasa agak pening di kepala. Mentari
bersinar terang membuat matanya menjadi silau. Tempat itu tak seperti hutan
terlarang lambusango yang dipenuhi kegelapan. Pemandangan itu terlihat begitu berbeda
dan menajubkan, terlihat pula taman-taman yang menawan di mata begitu juga bunga-bunga
indah berwarna-warni. Udara yang begitu sejuk membuatnya terasa segar sekali.
Mata air yang sangat jernih mengalirkan sungai-sungai indah. Namun tempat itu
penuh keganjilan sebab ia sama sekali tak melihat pegunungan La Koluwulu lagi.
Hal itu membuatnya semakin kebingungan tentang di mana keberadaan ia sekarang.
Gemercik itu berasal
dari air terjun 1.000 warna yang membentang seluas mata memandang. Airnya pun
mengalirkan 7 anak sungai yang esoktis. Tak berlangsung lama seorang pria
bersayap terbang mendekati Rahul dari
arah timur. Ia terkagum-kagum melihat pria itu yang semakin mendekatiya dan
memiliki wajah menawan, tampak seperti malaikat. Dan sampai akhirnya pun mata
mereka telah semakin dekat yang memandangi satu sama lain.
“Siapa Engkau, wahai
pria asing” kata pemuda menawan itu
“Aku adalah Rahul,
seorang penjelajah”
“Mengapa engkau ada
disini? Cepatlah kembali sebab tempat ini takkan aman untukmu”
“Tapi aku tak bisa
kembali lagi”
“Engkau terlalu naïf,
Rahul… pulanglah, ini adalah dunia ERVEST, dunia para penyihir”
“aku tak mengerti apa
yang engkau katakan”
“pulanglah, wahai sang
Penjelajah”
“aku tak akan kembali
sebelum aku menaklukkan pegunungan La koluwulu” ujaran Rahul akan prinsip
hidupnya.
“aku berlepas diri
darimu, wahai sang Penjelajah. Ketahuilah aku adalah penjaga air terjun ini,
aku adalah OPICK”
Pria itu sekejab mata
menghilang tanpa jejak. Rahul mencoba mencari ke segala arah tapi ia tak
melihatnya sama sekali. Ketakutannya tak bisa membohongi wajahnya yang polos. Namun
meskipun demikian ia tak gentar untuk menghadapi tantangan di dunia penyihir,
negeri ERFEST.
Ketika sekian lama ia
berjalan, tibalah ia melihat sebuah gerbang yang sangat indah. Gerbang itu
terbuat dari emas dan dihiasi 7 gambar naga berbagai bentuk. Gerbang itu
sangatlah tinggi kira-kira setinggi 927 meter yang menjulang tinggi ke atas
awan dan juga lebar yang hanya bisa ditempuh perjalanan 90 tahun lebih lamanya
baru bisa sampai ke ujung. Tampak gerbang itu sangatlah sunyi tanpa penjaga sama
sekali. Terlebih lagi gerbang itu di kelilingi api ungu yang menjulang tinggi
tanpa batas dan salju yang sangat membeku. “apakah ini bagian misteri dunia
penyihir yang dikatakan orang-orang itu?” Rahul pun mendekati gerbang itu
dengan penuh penasaran.
Ia terus berjalan
mendekati gerbang itu selama berhari-hari namun belum juga sampai kesana. Ia
kehabisan air dan persediaan makanan sehingga membuat luka yang telah sembuh
kembali bersemi. Ia mengalami sakit parah dan dehidrasi tinggi. Matanya
terbelalak keluar begitu pula tubuhnya yang kurus kering. Langkah kakinya
seiring hari bertemu hari tak mampu lagi menompang tubuhnya yang kian renta.
Mati rasanya, ia tak mampu lagi melanjutkan perjalanan tanpa arah ini namun entah mengapa hasratnya selalu
menolak untuk berhenti dan pasrah. Prinsip hidup yang begitu kuat membuat ia tak
mudah untuk menyerah meskipun harus mati di pertengahan jalan.
Perjalanan yang sangat
melelahkan banyak rintangan telah dihadapi olehnya namun belum menuai hasil,
semua hanyalah ketidak pastian yang berlarut-larut. Hatinya seakan menangis
menerima semua kenyataan. Dan nasi telah menjadi bubur. Namun ia selalu percaya
di setiap ada kesulitan pasti ada kebahagiaan, mungkin ini hanyalah proses yang
panjang dan sangat menyakitkan. “Umur bisa membuat kita dewasa tetapi hanyalah
masalah yang bisa mendewasakan diri”, seperti besi sebelum ia menjadi barang
yang bernilai tinggi ia harus melewati proses yang panjang entah itu ia harus
dipalu berkali-kali, dipanaskan di dalam bara api lalu kemudian dipalu-palu
selama berhari-hari. Proses itu selalu dilaluinya tanpa mengeluh sampai
akhirnya ia menjadi barang yang sangat berharga dan bernilai bagi orang banyak.
Inilah hidup terkadang masalah seakan membuat hati ini ingin segera mengakhiri
hidup secepatnya. Dan tak sedikit pula
yang melakukannya atau terus bersabar lalu menjadi orang yang sukses. Hidup itu
terlalu sederhana untuk diamati tetapi berat untuk dijalani. Kira-kira seperti
itulah isi hati sang penjelajah sewaktu bergumam, ia menatapi hidup dengan
santai dan menjalaninya penuh semangat tanpa kenal lelah.
Tubuh yang renta ini
tak mampu lagi ia melangkah lebih jauh lagi. Sudah lebih dari 23 hari ia
berjalan menuju gerbang itu tetapi tak kunjung sampai di sana. Matanya seakan
berkunang-kunang dan membuatnya ingin terlelap. Tampak kedua langkah kakinya
kian tak lagi seimbang hingga suatu ketika perlahan tiba- tiba “Bruukkkkkkkkkk….”
Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Suara hatinya terus meminta pertolongan
namun sangatlah mustahil sebab ini adalah dunia penyihir. Detik memukul detik,
dunia itu semakin menghilang tanpa membekas hingga mata itu menutup tanpa
cahaya dan hanya mengisakan bayangan hitam.
Bayangan itu semakin
terlihat samar, cahaya putih menerpa arah tanpa batas di sebuah pintu kecil
yang terbuat dari kayu kering berwarna kuning kecoklatan. Dari situ ia mencium
aroma bidadari bak kasturi kasablanka bercampur bunga melati telaga di balik
pintu yang sederhana itu. Saat ia membuka pintu itu dengan hati penuh tanya,
seketika itulah ia melihat bidadari surga
tersenyum bersipu malu. Ia tak tahu lagi cara mengedipkan mata sebab
bidadari itu sangat cantik dan menawan. Sesekali ia menetaskan air liur tanpa
sadar, ia begitu kagum melihat bidadari itu sebab baru pertama kali ia bertemu
dengan cewek yang sangat cantik selama hidupnya. Bidadari itu menyapanya dengan
suara yang lembut nan indah.
“Apakah engkau Rahul”
“iya aku adalah Rahul,
tapi siapakah engkau?”
“aku adalah jodohmu”
“Jodohku….Tidakkkkk,
tidak mungkin,,,aku tak percaya”
“Mengapa engkau tak
mempercayai ku?”
“Sebab engkau terlalu
cantik sedangkan aku hanyalah pria biasa”
“walaupun engkau
menolakku tapi aku tetap adalah jodoh yang telah ditakdirkan”
“Apakah engkau
bercanda?” ujarnya tidak percaya
“Rahul dengarkanlah aku,
aku akan menunggumu. Temui aku Rahul secepatnya”
“Menemuimu… Lantas apa
yang akan terjadi bila aku tidak menemuimu”
“sebab aku akan
dinikahkan dengan raja Kegelapan yang telah mengancam ayahku, Raja ERFEST”
“Raja kegelapan…” ujar
Rahul kebingungan
“Yah… Raja kegelapan.
Merekalah yang telah merusak dunia penyihir”
“Tapi apa hubungannya
denganku”
“Karna hanya engkau
wahai jodohku yang bisa mengalahkannya”
“Sumpah aku masih
bingung dengan semua ini, trus bagaimana aku bisa menemuimu sedangkan aku tak
tahu apa-apa dengan negeri ini?”
“Ikutilah kata hatimu
sebab ia tak pernah bohong”
“Kata hatiku?”
“Iya Rahul...cepatlah
temui aku, bila tidak dunia penyihir akan jatuh dalam kegelapan”
Bersambung…

