Pelangi Sekolah Tangga
(Penulis: Rahmad)
Aku adalah seorang siswa di SMA Negeri Unggulan. Kebetulan sekolahku merupakan sekolah unggulan di kotaku, Pasarwajo. Semua orang sering berkata bahwa sekolahku merupakan tempat perkumpulan orang-orang yang cerdas. Terkadang aku pun bahagia dengan pernyataan tersebut tetapi kadang aku sedih. Aku tidak seperti yang orang lain kira, karena sebenarnya aku dikenal sebagai siswa terbodoh di kelasku. Si tukang malas dan ahli dalam strategi nyontek tanpa ketahuan guru saat ujian “yah…beda-beda tipis kayak main mobile legend gitu”. Semua hal buruk yang pernah ada di dunia ini telah melekat kuat dalam diriku, kecuali dosa, karena aku benci dia.
Oh iya.. kenalkan namaku adalah La Yusuf
Putra. Aku merupakan tipe cowok tertampan di kelasku. Setidaknya, sedikit lebih
tampan dari karakter cowok film Dilan yang pernah membuat teman-teman cewek di kelasku
sedikit gila karena ngefens. “Hehehehe...” tapi jauh dari semua itu, sebetulnya
aku hanya dianggap sebatas cowok biasa yang tidak punya apa-apa. Apalagi aku sering
dibuli oleh teman sekelasku dan itu sangat menyakitkan, sumpah.
Semua berawal dari kejadian itu di hari kamis
tepat pada jam terakhir di mata pelajaran matematika. Aku yang dianggap bodoh dan
ditertawakan di kelas menjadi sangat tidak percaya diri ketika berhadapan dengan
guru. Sehingga aku merasa bosan untuk belajar dan memandang rendah semua potensi
yang aku miliki. Pandanganku hanya tertuju pada pintu ruangan kelas, juga jendela
di samping kananku. Kebetulan aku duduk di pojok belakang sebelah kiri dari depan
meja guru. Seolah bisu, pikiranku hanya memikirkan
kebebasan. Betapa indahnya dunia ini bila perilaku membuli itu telah lama punah.
SMA Negeri Unggulan adalah sekolah favoritku
tapi mengapa yang jahat tetap ada dipelukan mu. Jujur, aku tidak menyalahkan keadaan
itu. Di sisi lain semua guru ku adalah orang yang baik. Apalagi guru Biologi
yang selalu semangat untuk mengajari kami tentang simbiosis mutualisme. Dan
guru Bahasa Indonesia yang punya cerita di saat ia mengajar. “Terimakasih Tuhan”
pikiranku yang sempat menghayal.
“Yusuf... Yusuf….” Terdengar teriak.
“Iya Pak, siappp”
“Kamu perhatikan tidak? apa yang bapak jelaskan
tadi di depan”
“Tentang hukum kuadrat perkalian yang
ditambah dan dikurangi, Pak” sontak jawabanku membuat semua teman sekelasku tertawa.
“Apa???” sambil geram.
“Itu Pak yang tadi dijelaskan, saya ingat”
ujarku.
“Kamu pasti tidak memperhatikan bapak saat
menerankan. Hari ini bapak menjelaskan tentang Trigonometri tapi jawaban mu
mengada-ngada”
“Iya pak, Maaf… Tadi aku menghayal”
“Sudahlah, Bapak telah maafkan”
“Iya Pak..”
“Ok… Anak-anak sekarang kita kerjakan soal
Latihan Trigonometri”
Semua pun mengerjakan soal Latihan Trigonometri
yang diberikan oleh guru. Aku mencoba mengejarkan soal itu yang ternyata sangat
sulit. Dan ketika aku ingin mengambil sebuah pulpen di tasku. Tiba-tiba Mardan merampas
pulpenku. Ia adalah teman sekelasku yang nakal dan sering membuliku. Spontan, aku
berteriak dan menyuruhnya untuk mengembalikan pulpenku. Tapi ia membentakku dengan
nada tinggi seolah ia tak bersalah.
“Mardan kembalikan pulpenku”
“Beraninya ini anak, pulpenku ini. Aku tonjok
kepala mu, biar tahu rasanya pukulanku” kata Mardan.
“Jangan begitu Mar, Jelas jelas itu pulpenku”
“Kamu ini bohong lagi, dasar bod*h”
Kelas menjadi ribut ketika mendengar pernyataan
Mardan yang akan memukulku. Akhirnya guru dengan cepat memisahkan kami dan menjauhkan
Mardan dariku yang sedang emosi. Namun tak berlangsung lama setelah itu bel pulang
pun berbunyi di mana suara lagu kebangsaan menandakan kegiatan sekolah telah berakhir.
Semua meninggalkan kelas, kecuali Mardan yang sedang menungguku di luar kelas tanpa
sepengetahuanku.
Beberapa menit kemudian ruangan kelas pun
menjadi kosong. Di saat itu pula aku dipukuli hingga babak belur dan mengeluarkan
darah di hidungku. Tak ada satu orang pun yang bisa menolongku. Karena ketika itu,
semua orang telah pulang. Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, hanya Tuhan
yang menjadi penolong disaat seorang manusia telah menjelma menjadi iblis bahkan
lebih parah dari itu. Setelah Mardan puas memukulku dan membenturkan kepalaku
di dinding. Ia pun pergi begitu saja sambil menertawaiku dengan penuh kehinaan.
Benar-benar aku merangkak dan tak mampu lagi
menggerakkan tubuhku. Aku menangis dalam hati kecilku dan berdoa kepada Tuhan
yang Esa dengan doa terbaikku “ Ya… Tuhan, tolong ampuni Mardan. Jangan biarkan
dia merasakan apa yang sedang aku rasakan. Ya… Tuhan, maafkanlah dia dan jadikanlah
dia orang yang baik. Aamiin” kata ku sambil meneteskan air mata. Aku pun tak sadarkan
diri.
Di sore hari ketika mentari telah mendekati
senja, aku mulai tersadar. Awan yang menggelap seolah mengisyaratkan hujan yang
hendak menangis. Dengan disertai petir yang menyambar dan suara Guntur yang
menggema. Aku berusaha untuk tetap tegar dan menahan rasa sakit ini dengan penuh
keikhlasan. Di teras lantai dua, aku melihat sekolah telah kosong dengan segala
hiruk pikuknya. Lapangan sekolah yang luas telah kosong dan hanya terlihat ring
basket disana.
Aku pun berjalan untuk hendak kembali pulang
ke rumah. Kaki ku seakan pincang dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Tapi
aku harus tetap semangat menjani hidup ini, karena aku yakin semua ini akan indah
pada waktunya. Hingga tibalah aku disebuah tangga sekolah. Aku menurungi tangga
itu dengan penuh hati-hati. Aku berfikir bahwa aku harus berubah. Aku tidak bisa
seperti ini terus. Hidupku akan jauh dari kata sukses jika rasa malas dan kebodohan
itu terus menghiasi hidupku. Aku ingin menjadi orang yang rajin dan pintar sehingga
bermanfaat bagi orang lain. Karena itu “aku harus komitmen untuk berubah”. Tiba-tiba
kaki ku tergelincir di tangga itu.
Aku terjatuh di tangga yang semakin membuat
kaki terkilir dan terasa sakit. Aku tersenyum dan berkata pada diriku sendiri “Ini
adalah janjiku bahwa jika aku melewati tangga ini maka aku harus melakukan perubahan
pada diriku sendiri, aku tidak boleh melewati tangga ini, kecuali aku telah merubah
sifat malas dan kebodohan dalam diriku, aku janji Tuhan”. Dan aku berusaha bangkit
untuk pulang menuju gerbang sekolah berwarna hitam yang sedang terbuka.
3 bulan kemudian setelah kejadian itu. Aku
terus melakukan perubahan pada diriku sendiri. Entah itu, aku hendak menuju ke kelas
atau pergi ke kantin, aku pasti melewati tangga itu dan menepati janjiku untuk terus
melakukan perubahan dalam diriku. Perlahan namun pasti, aku pun telah melakukan
perubahan besar dalam diriku. Rasa malas yang ku alami dulu, kini telah aku tinggalkan.
Prestasiku pun meningkat dari awalnya rangkin terakhir, kini telah menjadi rangkin
5 besar di kelas yang pada akhirnya Tuhan menjawab doaku lewat kerja keras hingga
aku mendapat juara 1 umum di semester berikutnya.
Sejak saat itu, aku percaya bahwa hasil tidak
akan pernah menghianati proses. Dari hal sederhana saja, seperti berkomitmen dan
berjanji di tangga sekolah akhirnya telah merubah kehidupanku ke arah yang
baik. Terimakasih Tuhan, aku sangat bersyukur dan bahagia. Sekian.
.
.
.
Cerita ini hanya hiburan semata, kami
minta maaf jika ada kesamaan nama dan tempat. Selamat membaca dan salam
kebahagiaan untuk kita semua.

