9/28/2019

Cerita Pohon - Impian Indah

Cerita Pohon
(Karya: Fardin Yasin Amura) 

Hari ini, entah mengapa terasa begitu menenangkan hati dan pikiran ku. Aku duduk sambil memandangi langit yang cerah dan tersenyum untuk kesekian kalinya. Di tempat ini aku menulis sebuah cerita yang menurut ku merupakan suatu kisah yang penuh kasih sayang-Nya. “Alhamdulillah…” Sambil menghela napas.
Suatu ketika aku berada disamping seorang anak yang sedang melukis impiannya di sebuah lembaran kertas kosong. Aku memandangi anak itu begitu bahagia. Kertas kosong itu dilukisnya dengan penuh imajinasi yang ada dipikiran anak itu. Aku terkadang bertanya pada hati kecil ku “impian apakah yang hendak ia lukis” aku penasaran melihat keseriusan anak itu. Ia menghayati setiap lekukan garis yang ia buat. Dan aku melihat anak itu membentuk pola yang tak asing di benak ku.  
Ternyata itu adalah sebuah pohon. “Kenapa harus sebuah pohon?” aku heran. Tapi anak itu memandangi lukisannya dengan penuh senyuman yang seolah membuat ku bertanya lebih dalam. Anak itu seolah menaruh semua harapan pada lukisannya. Aku pun dengan sabar melihat anak itu melanjutkan lukisannya.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang kakek yang tersenyum melihat ia melukis.
“Lukisan apa itu, nak?”
“Ini Kek, pohon kehidupan” anak itu menjawab dengan polos
 “Pohon kehidupan?”
“Iya Kek…”
Seketika itu aku semakin penasaran dengan apa yang diucapkan oleh anak itu “Pohon kehidupan? Aku baru mendengarnya, lantas apa arti dari pohon kehidupan anak itu”
“Apakah di pohon kehidupan, kita bisa memberi kehidupan pada banyak orang” tanya kakek
“Iya Kek, aku ingin memberi semua buah yang manis kepada teman-teman ku, biar mereka bisa merasakan pohon kehidupan”
“Wah… berarti kakek bisa makan banyak buah” kata kakek tertawa
Mendengar percakapan kakek dan anak itu, aku pun ikut tertawa. Anak itu benar-benar ingin melukis pohon kehidupan itu. Tapi apa benar anak itu bisa membawa pohon kehidupan itu pada dunia nyata.  
“Gambar apa itu Nak?” tanya kakek
Tiba-tiba pandangan ku sedikit teralihkan pada gambar yang baru dilukis anak itu. Seolah nampak seperti pasangan yang sedang berpegangan tangan disamping pohon kehidupan. Aku pun heran, kenapa anak itu melukisnya?”
Anak itu tertawa “Ini ayah dan ibu sedang berada di pohon kehidupan”
“Kenapa mereka ada disana?”
“Ia sedang berdoa pada Allah, Kek” kata anak itu sedang memandangi lukisan mereka
“Untuk apa mereka berdoa?” kakek penasaran
“Supaya pohon kehidupannya tetap tumbuh dan terus memberikan buah yang manis untuk semua orang”
“Untuk teman-teman mu juga?”
“Iya, untuk teman-teman ku juga”
“Berarti ayah dan ibu harus selalu berdoa agar pohon kehidupan itu tumbuh subur”
“Iya Kek, tanpa doa mereka pohon kehidupan itu tidak bisa tumbuh subur dan berbuah”
Aku pun tiba-tiba terharu dan begitu sangat bahagia, setelah mendengar percakapan antara anak itu dan kakek. Seperti malaikat sedang datang memeluk kami. Dengan penuh harapan, kakek mendoakan dan menasehati anak itu.
Nak, semoga kau menjadi pohon kehidupan untuk semua orang yang tumbuh dan memberi manfaat dengan buah-buah kebaikan yang kau miliki. Janganlah sedih meskipun nanti, kau akan melihat dunia tak seindah apa yang di lukisan mu tapi jadilah anak yang sabar dan bersyukur. Ingat meski hidup mu berat, tetaplah yakin pada Allah. Kau akan tetap menemukan bahagia bersama-Nya, dan jadilah anak yang berbakti pada orangtua karena hanya doa merekalah, kau akan menjadi pohon kehidupan untuk semua orang.
Anak itu pun tersenyum pada kakek. Ia menaruh keyakinan pada impian kecilnya untuk menjadi pohon kehidupan yang selalu berbuah manis untuk semua orang. Ia tersenyum memandangi lukisan pohon kehidupan yang sedang digenggamnya.
Aku masih menikmati langit yang cerah setelah menyelesaikan cerita ini. Meski hanya beberapa menit tapi itu sudah cukup untuk mengagumi apa yang Allah berikan kepada ku. Terima kasih ya Allah atas kebaikan yang Engkau berikan kepada ku. Aku pun berharap, semoga anak di cerita itu menjadi pohon kehidupan bagi semua orang. Sekian.

Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.