Cerita
Pohon
(Karya: Fardin Yasin Amura)
Hari
ini, entah mengapa terasa begitu menenangkan hati dan pikiran ku. Aku duduk
sambil memandangi langit yang cerah dan tersenyum untuk kesekian kalinya. Di
tempat ini aku menulis sebuah cerita yang menurut ku merupakan suatu kisah yang
penuh kasih sayang-Nya. “Alhamdulillah…” Sambil menghela napas.
Suatu
ketika aku berada disamping seorang anak yang sedang melukis impiannya di
sebuah lembaran kertas kosong. Aku memandangi anak itu begitu bahagia. Kertas
kosong itu dilukisnya dengan penuh imajinasi yang ada dipikiran anak itu. Aku
terkadang bertanya pada hati kecil ku “impian apakah yang hendak ia lukis” aku
penasaran melihat keseriusan anak itu. Ia menghayati setiap lekukan garis yang
ia buat. Dan aku melihat anak itu membentuk pola yang tak asing di benak ku.
Ternyata
itu adalah sebuah pohon. “Kenapa harus sebuah pohon?” aku heran. Tapi anak itu
memandangi lukisannya dengan penuh senyuman yang seolah membuat ku bertanya
lebih dalam. Anak itu seolah menaruh semua harapan pada lukisannya. Aku pun
dengan sabar melihat anak itu melanjutkan lukisannya.
Beberapa
saat kemudian datanglah seorang kakek yang tersenyum melihat ia melukis.
“Lukisan
apa itu, nak?”
“Ini
Kek, pohon kehidupan” anak itu menjawab dengan polos
“Pohon kehidupan?”
“Iya
Kek…”
Seketika
itu aku semakin penasaran dengan apa yang diucapkan oleh anak itu “Pohon
kehidupan? Aku baru mendengarnya, lantas apa arti dari pohon kehidupan anak
itu”
“Apakah
di pohon kehidupan, kita bisa memberi kehidupan pada banyak orang” tanya kakek
“Iya
Kek, aku ingin memberi semua buah yang manis kepada teman-teman ku, biar mereka
bisa merasakan pohon kehidupan”
“Wah…
berarti kakek bisa makan banyak buah” kata kakek tertawa
Mendengar
percakapan kakek dan anak itu, aku pun ikut tertawa. Anak itu benar-benar ingin
melukis pohon kehidupan itu. Tapi apa benar anak itu bisa membawa pohon
kehidupan itu pada dunia nyata.
“Gambar
apa itu Nak?” tanya kakek
Tiba-tiba
pandangan ku sedikit teralihkan pada gambar yang baru dilukis anak itu. Seolah
nampak seperti pasangan yang sedang berpegangan tangan disamping pohon
kehidupan. Aku pun heran, kenapa anak itu melukisnya?”
Anak
itu tertawa “Ini ayah dan ibu sedang berada di pohon kehidupan”
“Kenapa
mereka ada disana?”
“Ia
sedang berdoa pada Allah, Kek” kata anak itu sedang memandangi lukisan mereka
“Untuk
apa mereka berdoa?” kakek penasaran
“Supaya
pohon kehidupannya tetap tumbuh dan terus memberikan buah yang manis untuk
semua orang”
“Untuk
teman-teman mu juga?”
“Iya,
untuk teman-teman ku juga”
“Berarti
ayah dan ibu harus selalu berdoa agar pohon kehidupan itu tumbuh subur”
“Iya
Kek, tanpa doa mereka pohon kehidupan itu tidak bisa tumbuh subur dan berbuah”
Aku
pun tiba-tiba terharu dan begitu sangat bahagia, setelah mendengar percakapan
antara anak itu dan kakek. Seperti malaikat sedang datang memeluk kami. Dengan penuh
harapan, kakek mendoakan dan menasehati anak itu.
Nak,
semoga kau menjadi pohon kehidupan untuk semua orang yang tumbuh dan memberi
manfaat dengan buah-buah kebaikan yang kau miliki. Janganlah sedih meskipun
nanti, kau akan melihat dunia tak seindah apa yang di lukisan mu tapi jadilah
anak yang sabar dan bersyukur. Ingat meski hidup mu berat, tetaplah yakin pada
Allah. Kau akan tetap menemukan bahagia bersama-Nya, dan jadilah anak yang
berbakti pada orangtua karena hanya doa merekalah, kau akan menjadi pohon
kehidupan untuk semua orang.
Anak
itu pun tersenyum pada kakek. Ia menaruh keyakinan pada impian kecilnya untuk
menjadi pohon kehidupan yang selalu berbuah manis untuk semua orang. Ia
tersenyum memandangi lukisan pohon kehidupan yang sedang digenggamnya.
Aku
masih menikmati langit yang cerah setelah menyelesaikan cerita ini. Meski hanya
beberapa menit tapi itu sudah cukup untuk mengagumi apa yang Allah berikan
kepada ku. Terima kasih ya Allah atas kebaikan yang Engkau berikan kepada ku.
Aku pun berharap, semoga anak di cerita itu menjadi pohon kehidupan bagi semua
orang. Sekian.

