8/07/2019

Cerpen Remaja Kecebong Cinta


Kecebong Cinta
(Fardin Yasin Amura)

 

Seperti biasa, hari itu merupakan hari terbaik bagi Naftan. Di waktu pukul 6:00 pagi merupakan aksi terbaik baginya untuk memulai awal yang baik. Mungkin ini agak terdengar aneh tapi disitulah letak nilai estetikanya “benar-benar selalu indah di hati”. Bisa dibayangkan, di pagi hari kita selalu mendengar ayam berkokok atau bahkan hawa kesegaran yang memeluk sukma terdalam. Namun hal yang perlu disadari bahwa terkadang di pagi hari, anugrah Tuhan selalu datang untuk memeluk. Dan itulah kenyataannya.
Semua itu berawal dari perjalanan ke sekolah menggunakan angkot (angkutan kota) atau transportasi umum. Emang sih… Berada di angkot itu terkadang seperti berada di dunia lain, ada yang diam, termenung, bergumam, bergumam sambil termenung atau nyuruh geser kiri kanan, ehhhh… tau-taunya duduk samping gebetan. Parahnya lagi kalau sedang ditatap sama pacar orang, udah berusaha cuek dan jutek, ehhh… malah ditonjok dari samping sama pacarnya, nggak sadar kalau disamping itu ada mantannya. Pokoknya, aneh deh… cerita dibalik angkot.
Angkot Sejuta Umat, begitulah panggilannya. Naftan agak terburu-buru berlari dari depan rumah. 200 meter dari rumah, ia melihat seekor kucing sedang duduk. Pandangnya pun sejenak teralihkan ke arah kucing tersebut. Tapi semakin diperhatikan, ia merasakan ada sesuatu yang aneh, tepat dari arah samping kanannya. Entah kenapa… semua terulang kembali.
“Deluan yah… Naf”
“Deluaaaaaaaannnnnn”
“Nafff… Kita ketemu di sekolah yah” teriakan seseorang
Naftan terdiam seribu bahasa. “Astaga dek, kamu terlambat lagi” kata seorang wanita paru baya sambil mengambil kucingnya.Naftan tak menjawab. “Dek, cepat pergi ke depan jalan nanti kamu bisa terlambat ke sekolah”.  Naftan masih membisu, tak mampu menjawab semua kenyataan itu.
Melihat kondisi yang tidak menguntungkan baginya, naftan memutuskan untuk menunggu di depan jalan. Arus lalu lintas yang tidak terlalu ramai, bahkan nyaris sepi. Seolah membuat keadaan semakin terpuruk. Keterpurukan itu semakin diperparah dengan cuaca yang tiba-tiba berubah. Hujan pun mengguyur.
Naftan mencari tempat untuk berteduh di bawah pohon yang rindang namun mendengar suara guntur yang menyambar-nyambar, memaksanya untuk mencari tempat lain untuk berteduh. Ia sibuk mencari tempat yang aman untuknya. Dan beberapa saat kemudian, ia mendengar suara musik Hip-Hop yang melaju kencang ke arahnya. Bunyik lakson yang semakin mendekat seolah membuat gendang telinga naftan pecah. “Kiri Mas…” kata seorang kendektur, “Naftan… Cepat naik, hujan makin deras”. Naftan hanya mengangguk dan lansung masuk ke dalam angkot tersebut.
Hujan deras menerpa seluruh luapan alam yang haus dan dahaga. Angkot itu pun membawa naftan pergi. Sambil menghela nafas panjang, pada akhirnya Naftan tersenyum sendiri. Ia terbawa suasana, angkot itu terasa sepi. Tak ada satu pun penumpang lain ketika itu, hanyalah seorang supir dan kendektur yang menemani perjalannya. Ia pun mengambil sebuah catatan kecil untuk menghiraukan suasana yang sedikit galau.
Selama naftan berada di angkot. Ia termenung meratapi deretan jok kosong di depannya. Alunan musik Hip-Hop pun ikut mewarnai perjalan nestapa penuh kerinduan akan hujan yang tiba-tiba berhenti. Ketika itu, naftan merasa kesepian. Ia hanya menanti dipemberhentian berikutnya. Seolah berharap pada malaikat surga yang akan menemani kesendirian itu.      
10 menit menanti perjalan. Naftan, mulai merasakan kebosanan terhebat. Ia berfikir bahwa mengapa ia terus terjebak dalam kegalauan tanpa akhir. Rasanya, hidup itu terlalu sempit untuk dunia yang luas ini. Ia membutuhkan kebebasan tapi di sisi lain, ia merasa kesepian.
“Kiri Mas…” suara keras terdengar menggelinting ke telinga Naftan. Spontang supir angkot mengijak rem tanpa sadar. Naftan tergelincir di depan jok angkot kosong. Wajahnya mengenai kaca angkot yang berembung. Ia pun menyesalkan kejadian yang sedang menimpangnya.
“Mas… Ke Sekolah Unggulan di Jalan Pattimura” ujar dengan lembut
“Iya Dek” kata supir angkot”
Suara itu terdengar sangat familiar di benak Naftan. Ia penasaran akan suara itu sehingga membuat pandangannya teralihkan. Seseorang menaiki angkot itu, naftan mengikuti arah pandangan yang ingin mengetahui siapa kah sosok itu. Namun di luar dugaan, naftan membisu seribu bahasa ketika melihat sosok dari suara itu.
“Naftan… itu kamu”
“Iya, ini aku”
“Kamu terlambat lagi yah”
“Iya, seperti biasa, aku sering terlambat”
“Kok, hari ini kita sama yah”
“Kenapa kamu ngomonnya gitu?” ujar Naftan kebingungan
“Soalnya kamu itu paling bandel di Sekolah, dan kamu sering dihukum karena terlambat”
“Udah biasa…” Naftan tersenyum
“Tapi ngomon-ngomon, minggu lalu kamu ditunjuk lagi jadi perwakilan sekolah untuk olimpiade Matematika”
“Nda tahu…. kenapa bisa aku yang ditunjuk”
“Naftan, kamu itu aneh yah. Kamu itu anak yang paling cerdas di sekolah, tapi kamu itu bandel”
Naftan tak menjawab.
Angkot itu meninggalkan tempat pemberhentian. Selama diperjalanan, naftan sedikit berguman pada dirinya. Mengapa ia tak mampu menjawab candaan darinya. Ia hanya bersikap dingin dan tak ingin berkata apa-apa padanya. Meskipun sejujurnya ia begitu menikmati pembicaraan sekilas itu.
Naftan mulai sedikit memberanikan diri untuk bicara dengannya. Ia memikirkan rangkaian kata yang tak membosankan untuk menjadi topik pembicaraan. Tapi semakin ia memaksakan dirinya untuk berfikir, ia tak menemukan ide apa pun. Justru hanyalah kebuntuan yang selalu terlintas dibenaknya. Sehingga ia menurunkan niatnya.
“Naftan, kamu tahu nggak, kenapa Pak Syahrul marah-marah ketika apel pagi kemarin?”
“Nggak tahu?” kata Naftan malas
“Tapi bukannya kamu yang buat ulah kemarin?”
“Kemarin….?”
“iya, kemarin… Aku dengar dari cerita teman-teman di kelas mu”
“Emang, apa yang kamu dengar dari mereka?”
“Kemarin kamu keluar kelas sambil tendang pintu di jam pelajaran Pak Syahrul”
“Oh… Aku kira apa’an. Ternyata hanya masalah pak Syahrul” Naftan makin memalas
“Aku hanya berfikir, semoga suatu saat kamu akan berubah”
“Berubah jadi Moster!!!” ujar Naftan jutek
Sambil sedikit ketawa “Santai ajalah Naf, jangan dibawa serius… aku hanya berharap kamu akan jadi orang yang baik”
“Semoga…” kata Naftan
Kata-kata itu membuat Naftan sedikit mengintropeksi diri. Mungkin itu yang menjadi penyebab, mengapa ia tidak memiliki teman yang mau mendengarkannya. Ia baru saja menyadari bahwa selama ini ia telah banyak melakukan kesalahan pada orang lain. Sebenarnya ia sadar akan semua hal itu, namun keadaan yang memaksa sehingga ia harus melakukan semua itu. Kenakalan yang ia dilakukan, hanya ingin dianggap oleh orang lain karena selama ini, ia tak pernah mendapatkan perhatian dari orang terdekatnya. Ia selalu merasa kesepian di tengah keramaian dan membuat hatinya memberontak pada kehidupan. Sehingga kenakalan dengan mengganggu orang lain bisa menjadi cara untuknya mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Tak sengaja naftan menjatuhkan buku disampingnya. Ia berusaha mengambil buku yang terjatuh tersebut. Namun di luar dugaan, naftan menyentuh sebuah botol berisi air dan menjadikannya tumpah tak beraturan.
“Naf… itu tugas pratikum ku” sontak ia kaget
“Pratikum apa…?”
“Ilmu pengetahuan alam”
“Aku tidak sengaja”
“Aku tidak bisa masuk kelas tanpa itu”
“Emangnya, apa itu?” ujar naftan penasaran sambil memandang air dari botol tersebut
Naftan tiba-tiba loncat dari jok angkot dan membuat semua orang kaget di dalam angkot. Ia seperti orang kesurupan setelah melihat air tumpahan botol tersebut. Semua orang ikut panik, melihat ekspresi Naftan yang tak biasa. “Ada apa Naf…?”. Naftan tak menjawab. “Kenapa Naf, ada apa?” kata seorang kendektur. Naftan belum membalas.
“Ularrrrrrrrrr…….” Kata Naftan
“Apa… Ularrrrrrrrr!!!”
“Mas, berhenti, ada ular”
Karena suasana terasa panik, sopir angkot tersebut, berhenti dengan santainya tanpa mempedulikan mereka yang mulai tak stabil. Belum sempurna angkot tersebut berhenti sempurna, kendektur angkot tersebut melakukan aksi nekat dengan meloncat dari pintu angkot. Beruntung tidak terjadi cedera parah, tetapi lucunya ia justru lari dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan yang lain, ibarat angin yang berlalu. Supir angkot ketawa melihat temannya lari terbirik-birik. “Kenapa lagi itu anak, kayaknya butuh libur kerja?” kata sopir angkot tak mampu menahan tawa.
“Naftan, ada ular di kaki ku…”
“Tenang… Jangan bergerak, aku mencoba mengalihkan pandangannya”
“Hati-hati Naf…”
“Cepat, kamu pergi dari sini”
Panik melihat Naftan yang tak bisa kemana-mana. Ia pun berlari keluar menuruti pinta naftan. Ular itu seolah perlahan bergerak mendekati Naftan. Namun tak ada yang bisa ia dilakukan, naftan bukan orang yang pandai menaklukan ular. Ia terus mencari cara agar bisa selamat dari ular tersebut. Meski itu terlihat mustahil, karena jarak antara ular dan naftan sangalah dekat.
Naftan hanya berdoa kepada Tuhan kala itu. Ia bingung, mengapa harus berada di titik, di mana kita bingung melakukan sesuatu, hanya karena kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan. Mencoba untuk bersikap tenang dan berfokus pada solusi agar ia bisa selamat dari ular itu. Ia memutuskan untuk mencoba hal yang belum pernah ia lakukan selama hidupnya, yakni menaklukan rasa takutnya untuk menjinakkan ular itu.
Naftan meniru gaya ular di depan matanya. Ia berhati-hati melakukan itu. Salah satu tangannya membentuk seperti kepala ular.  Ia perlahan menunduk dan berusaha mengalihkan perhatian ular yang seoalah akan menyerang naftan. Keyakinan naftan sedikit goyah, ia tak mampu tenang di kondisi bahaya depan mata. Butuh alasan kuat baginya untuk tetap tenang menaklukan ular tersebut.
“Dek, awas di kaki mu…” kata supir angkot
“Naftannnnnn…” suara panik di luar
Naftan tak bisa mengelak. Ia harus merelakan separuh detik yang berharga dalam hidupnya. Tak ada yang tahu, tapi semua terjadi begitu saja. Ia kembali mengingat semua masa lalunya. Cerita semasa kecilnya bersama orang-orang terpenting dalam hidupnya. Ia tak mampu menjawab akhir dari cerita ini. Ular itu menyerang.
“Naftan, kamu jangan panik” kata supir angkot
“Tenangkan perasaan mu” Sopir angkot itu ketawa terbahak-bahak melihat ekspresi naftan yang terlalu panik.
“Naftan, kamu sebenarnya kenapa? Kok, takut sama ular”.
“Naftan tak menjawab”
“Itu ular daun, Naf…”
“Ular daun itu apa, Mas?”
“Ular hijau yang tidak berbahaya”
“Terus kenapa disimpan disini, Mas”
“Maaf, tadi malam lupa disimpan di kandangnya”
“Astaga, Mas… itu bahaya, bikin orang jantungan”
“Tapi kenapa kendekturnya lari…”
“Biasalah… Lagi halu (halusinasi)” kata sopir angkot ketawa
“Ayo, semua cepat naik ke angkot, , nanti kalian telat ke sekolah”
“Tapi ularnya, Mas”
“Simpan saja di Box”
“Terus kendekturnya, gimana?”
“Biarin aja..”
15 menit kemudian, Naftan tiba ke sekolah. Naftan merasa lega setelah turun dari angkot. Selain itu ia merasa beruntung, karena pagi itu apel pagi tidak jadi dilaksanakan. Hujan di pukul 6:50 pagi mengharuskan semua siswa untuk langsung masuk ke kelas, menunggu jam pelajaran. Angkot itu pergi meninggalkan mereka.
“Makasih, Mas…” Kata Naftan
“Kamu itu harus tenang ketika menghadapi ular, apalagi itu ular daun, bikin malu aja kamu” kata sopir angkot
“Hahahaha…” Teman naftan ketawa
“Sampai ketemu nanti Naf…”
Angkot itu pergi meninggalkan mereka. Naftan baru menyadari bahwa ia kehilangan sesuatu.  
“Buku ku ketinggalan di angkot” kata Naftan
“Waduh… Tugas pratikum ku juga ketinggalan disana”
“Yang dibotol itu kan?”
“Iya, itu tugas pratikum ku"
“Tapi masalahnya… angkotnya sudah jauh”
“Aduh, aku tidak bisa masuk kelas tanpa itu”
“Emang tugas pratikum mu yang di botol itu apa?
“Kecebong…”
“Apa kecebong…?”
“Kok, norak banget sih, bawa kecebong ke sekolah”
“Habisnya di suruh sama guru IPA”
“Ok… Jangan panik, aku bantu kamu yah…”
“Makasih yah Naf…”
Mereka pun mencari kecebong di selokan sekolah, namun tidak menemukan kecebong sama sekali. Pada akhirnya, Naftan melakukan aksi nekat dengan menyelurusuri setiap kelas untuk meminta kepada siswa lain yang membawa kecebong. Sekian.

Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.