Kecebong Cinta
(Fardin Yasin Amura)
Seperti biasa, hari itu merupakan hari terbaik
bagi Naftan. Di waktu pukul 6:00 pagi merupakan aksi terbaik baginya untuk memulai
awal yang baik. Mungkin ini agak terdengar aneh tapi disitulah letak nilai estetikanya
“benar-benar selalu indah di hati”. Bisa dibayangkan, di pagi hari kita selalu mendengar
ayam berkokok atau bahkan hawa kesegaran yang memeluk sukma terdalam. Namun hal
yang perlu disadari bahwa terkadang di pagi hari, anugrah Tuhan selalu datang untuk
memeluk. Dan itulah kenyataannya.
Semua itu berawal dari perjalanan ke sekolah
menggunakan angkot (angkutan kota) atau transportasi umum. Emang sih… Berada di
angkot itu terkadang seperti berada di dunia lain, ada yang diam, termenung,
bergumam, bergumam sambil termenung atau nyuruh geser kiri kanan, ehhhh… tau-taunya
duduk samping gebetan. Parahnya lagi kalau sedang ditatap sama pacar orang,
udah berusaha cuek dan jutek, ehhh… malah ditonjok dari samping sama pacarnya, nggak
sadar kalau disamping itu ada mantannya. Pokoknya, aneh deh… cerita dibalik angkot.
Angkot Sejuta Umat, begitulah panggilannya.
Naftan agak terburu-buru berlari dari depan rumah. 200 meter dari rumah, ia melihat
seekor kucing sedang duduk. Pandangnya pun sejenak teralihkan ke arah kucing tersebut.
Tapi semakin diperhatikan, ia merasakan ada sesuatu yang aneh, tepat dari arah samping
kanannya. Entah kenapa… semua terulang kembali.
“Deluan yah… Naf”
“Deluaaaaaaaannnnnn”
“Nafff… Kita ketemu di sekolah yah” teriakan
seseorang
Naftan terdiam seribu bahasa. “Astaga dek,
kamu terlambat lagi” kata seorang wanita paru baya sambil mengambil kucingnya.Naftan
tak menjawab. “Dek, cepat pergi ke depan jalan nanti kamu bisa terlambat ke sekolah”. Naftan masih membisu, tak mampu menjawab semua
kenyataan itu.
Melihat kondisi yang tidak menguntungkan
baginya, naftan memutuskan untuk menunggu di depan jalan. Arus lalu lintas yang
tidak terlalu ramai, bahkan nyaris sepi. Seolah membuat keadaan semakin terpuruk.
Keterpurukan itu semakin diperparah dengan cuaca yang tiba-tiba berubah. Hujan pun
mengguyur.
Naftan mencari tempat untuk berteduh di
bawah pohon yang rindang namun mendengar suara guntur yang menyambar-nyambar, memaksanya
untuk mencari tempat lain untuk berteduh. Ia sibuk mencari tempat yang aman untuknya.
Dan beberapa saat kemudian, ia mendengar suara musik Hip-Hop yang melaju kencang
ke arahnya. Bunyik lakson yang semakin mendekat seolah membuat gendang telinga naftan
pecah. “Kiri Mas…” kata seorang kendektur, “Naftan… Cepat naik, hujan makin deras”.
Naftan hanya mengangguk dan lansung masuk ke dalam angkot tersebut.
Hujan deras menerpa
seluruh luapan alam yang haus dan dahaga. Angkot itu pun
membawa naftan pergi. Sambil menghela nafas panjang, pada akhirnya Naftan tersenyum
sendiri. Ia terbawa suasana, angkot itu terasa sepi. Tak ada satu pun penumpang
lain ketika itu, hanyalah seorang supir dan kendektur yang menemani
perjalannya. Ia pun mengambil sebuah catatan kecil untuk menghiraukan suasana
yang sedikit galau.
Selama naftan
berada di angkot. Ia termenung meratapi deretan jok kosong di depannya. Alunan
musik Hip-Hop pun ikut mewarnai perjalan nestapa penuh kerinduan akan hujan
yang tiba-tiba berhenti. Ketika itu, naftan merasa kesepian. Ia hanya menanti dipemberhentian
berikutnya. Seolah berharap pada malaikat surga yang akan menemani kesendirian
itu.
10 menit menanti
perjalan. Naftan, mulai merasakan kebosanan terhebat. Ia berfikir bahwa mengapa
ia terus terjebak dalam kegalauan tanpa akhir. Rasanya, hidup itu terlalu sempit
untuk dunia yang luas ini. Ia membutuhkan kebebasan tapi di sisi lain, ia
merasa kesepian.
“Kiri Mas…”
suara keras terdengar menggelinting ke telinga Naftan. Spontang supir angkot
mengijak rem tanpa sadar. Naftan tergelincir di depan jok angkot kosong. Wajahnya
mengenai kaca angkot yang berembung. Ia pun menyesalkan kejadian yang sedang menimpangnya.
“Mas… Ke Sekolah
Unggulan di Jalan Pattimura” ujar dengan lembut
“Iya Dek” kata
supir angkot”
Suara itu
terdengar sangat familiar di benak Naftan. Ia penasaran akan suara itu sehingga
membuat pandangannya teralihkan. Seseorang menaiki angkot itu, naftan mengikuti
arah pandangan yang ingin mengetahui siapa kah sosok itu. Namun di luar dugaan,
naftan membisu seribu bahasa ketika melihat sosok dari suara itu.
“Naftan… itu kamu”
“Iya, ini aku”
“Kamu terlambat
lagi yah”
“Iya, seperti
biasa, aku sering terlambat”
“Kok, hari ini
kita sama yah”
“Kenapa kamu
ngomonnya gitu?” ujar Naftan kebingungan
“Soalnya kamu
itu paling bandel di Sekolah, dan kamu sering dihukum karena terlambat”
“Udah biasa…” Naftan
tersenyum
“Tapi ngomon-ngomon,
minggu lalu kamu ditunjuk lagi jadi perwakilan sekolah untuk olimpiade
Matematika”
“Nda tahu….
kenapa bisa aku yang ditunjuk”
“Naftan, kamu
itu aneh yah. Kamu itu anak yang paling cerdas di sekolah, tapi kamu itu bandel”
Naftan tak
menjawab.
Angkot itu meninggalkan
tempat pemberhentian. Selama diperjalanan, naftan sedikit berguman pada
dirinya. Mengapa ia tak mampu menjawab candaan darinya. Ia hanya bersikap
dingin dan tak ingin berkata apa-apa padanya. Meskipun sejujurnya ia begitu menikmati
pembicaraan sekilas itu.
Naftan mulai
sedikit memberanikan diri untuk bicara dengannya. Ia memikirkan rangkaian kata
yang tak membosankan untuk menjadi topik pembicaraan. Tapi semakin ia memaksakan
dirinya untuk berfikir, ia tak menemukan ide apa pun. Justru hanyalah kebuntuan
yang selalu terlintas dibenaknya. Sehingga ia menurunkan niatnya.
“Naftan, kamu
tahu nggak, kenapa Pak Syahrul marah-marah ketika apel pagi kemarin?”
“Nggak tahu?”
kata Naftan malas
“Tapi bukannya
kamu yang buat ulah kemarin?”
“Kemarin….?”
“iya, kemarin…
Aku dengar dari cerita teman-teman di kelas mu”
“Emang, apa yang
kamu dengar dari mereka?”
“Kemarin kamu
keluar kelas sambil tendang pintu di jam pelajaran Pak Syahrul”
“Oh… Aku kira
apa’an. Ternyata hanya masalah pak Syahrul” Naftan makin memalas
“Aku hanya
berfikir, semoga suatu saat kamu akan berubah”
“Berubah jadi Moster!!!”
ujar Naftan jutek
Sambil sedikit
ketawa “Santai ajalah Naf, jangan dibawa serius… aku hanya berharap kamu akan
jadi orang yang baik”
“Semoga…” kata
Naftan
Kata-kata itu
membuat Naftan sedikit mengintropeksi diri. Mungkin itu yang menjadi penyebab,
mengapa ia tidak memiliki teman yang mau mendengarkannya. Ia baru saja
menyadari bahwa selama ini ia telah banyak melakukan kesalahan pada orang lain.
Sebenarnya ia sadar akan semua hal itu, namun keadaan yang memaksa sehingga ia
harus melakukan semua itu. Kenakalan yang ia dilakukan, hanya ingin dianggap
oleh orang lain karena selama ini, ia tak pernah mendapatkan perhatian dari
orang terdekatnya. Ia selalu merasa kesepian di tengah keramaian dan membuat
hatinya memberontak pada kehidupan. Sehingga kenakalan dengan mengganggu orang
lain bisa menjadi cara untuknya mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Tak sengaja naftan
menjatuhkan buku disampingnya. Ia berusaha mengambil buku yang terjatuh
tersebut. Namun di luar dugaan, naftan menyentuh sebuah botol berisi air dan menjadikannya
tumpah tak beraturan.
“Naf… itu tugas
pratikum ku” sontak ia kaget
“Pratikum apa…?”
“Ilmu
pengetahuan alam”
“Aku tidak sengaja”
“Aku tidak bisa masuk
kelas tanpa itu”
“Emangnya, apa itu?”
ujar naftan penasaran sambil memandang air dari botol tersebut
Naftan tiba-tiba
loncat dari jok angkot dan membuat semua orang kaget di dalam angkot. Ia
seperti orang kesurupan setelah melihat air tumpahan botol tersebut. Semua
orang ikut panik, melihat ekspresi Naftan yang tak biasa. “Ada apa Naf…?”.
Naftan tak menjawab. “Kenapa Naf, ada apa?” kata seorang kendektur. Naftan belum
membalas.
“Ularrrrrrrrrr…….”
Kata Naftan
“Apa…
Ularrrrrrrrr!!!”
“Mas, berhenti,
ada ular”
Karena suasana
terasa panik, sopir angkot tersebut, berhenti dengan santainya tanpa
mempedulikan mereka yang mulai tak stabil. Belum sempurna angkot tersebut
berhenti sempurna, kendektur angkot tersebut melakukan aksi nekat dengan meloncat
dari pintu angkot. Beruntung tidak terjadi cedera parah, tetapi lucunya ia justru
lari dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan yang lain, ibarat angin yang
berlalu. Supir angkot ketawa melihat temannya lari terbirik-birik. “Kenapa lagi
itu anak, kayaknya butuh libur kerja?” kata sopir angkot tak mampu menahan tawa.
“Naftan, ada
ular di kaki ku…”
“Tenang… Jangan
bergerak, aku mencoba mengalihkan pandangannya”
“Hati-hati Naf…”
“Cepat, kamu pergi
dari sini”
Panik melihat
Naftan yang tak bisa kemana-mana. Ia pun berlari keluar menuruti pinta naftan. Ular
itu seolah perlahan bergerak mendekati Naftan. Namun tak ada yang bisa ia dilakukan,
naftan bukan orang yang pandai menaklukan ular. Ia terus mencari cara agar bisa
selamat dari ular tersebut. Meski itu terlihat mustahil, karena jarak antara
ular dan naftan sangalah dekat.
Naftan hanya
berdoa kepada Tuhan kala itu. Ia bingung, mengapa harus berada di titik, di mana
kita bingung melakukan sesuatu, hanya karena kita tidak tahu apa yang akan kita
lakukan. Mencoba untuk bersikap tenang dan berfokus pada solusi agar ia bisa
selamat dari ular itu. Ia memutuskan untuk mencoba hal yang belum pernah ia
lakukan selama hidupnya, yakni menaklukan rasa takutnya untuk menjinakkan ular
itu.
Naftan meniru
gaya ular di depan matanya. Ia berhati-hati melakukan itu. Salah satu tangannya
membentuk seperti kepala ular. Ia
perlahan menunduk dan berusaha mengalihkan perhatian ular yang seoalah akan
menyerang naftan. Keyakinan naftan sedikit goyah, ia tak mampu tenang di
kondisi bahaya depan mata. Butuh alasan kuat baginya untuk tetap tenang
menaklukan ular tersebut.
“Dek, awas di
kaki mu…” kata supir angkot
“Naftannnnnn…”
suara panik di luar
Naftan tak bisa
mengelak. Ia harus merelakan separuh detik yang berharga dalam hidupnya. Tak
ada yang tahu, tapi semua terjadi begitu saja. Ia kembali mengingat semua masa
lalunya. Cerita semasa kecilnya bersama orang-orang terpenting dalam hidupnya. Ia
tak mampu menjawab akhir dari cerita ini. Ular itu menyerang.
“Naftan, kamu
jangan panik” kata supir angkot
“Tenangkan perasaan
mu” Sopir angkot itu ketawa terbahak-bahak melihat ekspresi naftan yang terlalu
panik.
“Naftan, kamu
sebenarnya kenapa? Kok, takut sama ular”.
“Naftan tak
menjawab”
“Itu ular daun,
Naf…”
“Ular daun itu
apa, Mas?”
“Ular hijau yang
tidak berbahaya”
“Terus kenapa
disimpan disini, Mas”
“Maaf, tadi
malam lupa disimpan di kandangnya”
“Astaga, Mas…
itu bahaya, bikin orang jantungan”
“Tapi kenapa
kendekturnya lari…”
“Biasalah… Lagi
halu (halusinasi)” kata sopir angkot ketawa
“Ayo, semua
cepat naik ke angkot, , nanti kalian telat ke sekolah”
“Tapi ularnya,
Mas”
“Simpan saja di
Box”
“Terus kendekturnya,
gimana?”
“Biarin aja..”
15 menit
kemudian, Naftan tiba ke sekolah. Naftan merasa lega setelah turun dari angkot.
Selain itu ia merasa beruntung, karena pagi itu apel pagi tidak jadi dilaksanakan.
Hujan di pukul 6:50 pagi mengharuskan semua siswa untuk langsung masuk ke kelas,
menunggu jam pelajaran. Angkot itu pergi meninggalkan mereka.
“Makasih, Mas…”
Kata Naftan
“Kamu itu harus
tenang ketika menghadapi ular, apalagi itu ular daun, bikin malu aja kamu” kata
sopir angkot
“Hahahaha…” Teman
naftan ketawa
“Sampai ketemu
nanti Naf…”
Angkot itu pergi
meninggalkan mereka. Naftan baru menyadari bahwa ia kehilangan sesuatu.
“Buku ku
ketinggalan di angkot” kata Naftan
“Waduh… Tugas
pratikum ku juga ketinggalan disana”
“Yang dibotol
itu kan?”
“Iya, itu tugas
pratikum ku"
“Tapi masalahnya…
angkotnya sudah jauh”
“Aduh, aku tidak
bisa masuk kelas tanpa itu”
“Emang tugas
pratikum mu yang di botol itu apa?
“Kecebong…”
“Apa kecebong…?”
“Kok, norak
banget sih, bawa kecebong ke sekolah”
“Habisnya di
suruh sama guru IPA”
“Ok… Jangan
panik, aku bantu kamu yah…”
“Makasih yah
Naf…”
Mereka pun
mencari kecebong di selokan sekolah, namun tidak menemukan kecebong sama
sekali. Pada akhirnya, Naftan melakukan aksi nekat dengan menyelurusuri setiap
kelas untuk meminta kepada siswa lain yang membawa kecebong. Sekian.

