Sendalku
Memutuskan Cintaku
(Fardin Yasin
Amura)
Hari-hari bersama cinta dikala hati membesuk kedalam
rangkaian cinta yang bertabur kata-kata manis. Seakan dunia ini serasa milik
kita berdua dan orang lain hanyalah sekedar numpang untuk menjadi pelengkap
kisah cinta kita. Di mana momentum indah jalinan cinta terabadikan dalam waktu
sesaat yang fana. Senyumanmu menyelimuti langit biru menawan hingga batas ke
awan-awan ketika syahdu memandang cakrawala. Bayanganmu terus menari di benak
ini dan membuat mata yang rindu tak lagi mampu memejam. Rasa cinta bagaikan
monyet kecil yang malu melihat buah-buah yang jatuh. Cinta telah menghapus
sakitnya duri yang terinjak begitu pula pilu. Namun semua itu hanyalah kenangan
masa lalu ketika perpisahaan menghapus kisah ini.
Semua itu berawal dari kejadian itu. Hujan yang
turun tak terduga telah mengubah hari yang cerah menjadi mendung berawan gelap.
Awan columbus itu telah membawa angin yang kecang dan tetesan air yang telah
membasai baju andalan anak remaja berusia 15 Tahun itu yang rencananya mau
dipakai untuk acara ulang tahun bebnya hari ini. Entah udah nasib atau memang
lagi ngetrennya sial, ban motornya yang tadinya aman tiba-tiba jadi kempes muka
belakang, ditambah lagi kotor dan basah karena becek. Hati yang semakin gelisah
karena sudah setengah jam dia telat ke acara ulang tahunnya dengan jarak
yang agak jauh. Dan disaat seperti itulah pengorbanan seorang pria sejatih
muncul.
Natan begitu panggilannya, tanpa berfikir panjang ia
berlari pergi menuju kamarnya untuk mencari pakaian lain yang dipakainya untuk
mengganti baju andalanya itu, ia sangat kebingungan karena tak ada satu pun
baju yang cocok dipakai untuk pergi ke acara ulang tahun bebnya. Semua bajunya
kotor karena ia lupa mencucinya. Dia agak malas mencuci apalagi sehabis pulang
dari futsal, yah pasti banyak alasannya kalau sudah ditanya ibu. Tapi meskipun
seperti itu kelakuanya, dia juga dikenal anak yang pintar dan rajin bekerja. Ia
sangat senang membantu orang tuanya apalagi untuk hal-hal pekerjaan rumah.
Sebenarnya bebnya juga cewek yang paling tercantik di sekolahnya dan ayahnya
adalah orang yang paling terkaya di kotanya. Ceweknya paling manja kalau diajak
jalan-jalan, juga dikenal paling perhatian. Natan paling cinta mati sama dia,
apalagi ceweknya merupakan idaman para cowok-cowok sampai-sampai Natan butuh
perjuangan lama untuk menaklukan hatinya. Kata teman-teman sih “kamu pake pelet
apaan bro, kok bisa Raisa ke centol sama kamu” tapi Natan selalu menanggapinya
dengan santai “ Yahhhh… biasa bro, rejeki anak sholeh”. Pernah juga berkelahi
hanya karena cowok lain merasa tersaingi dengan Natan.
Saat sedang mencari baju yang cocok untuk dipake, tiba-tiba
Hpnya berbunyi dengan suara yang tidak asing lagi.
“Hallo Natan, Lagi di mana sekarang? sudah
ditungguin sama Ayah dan ibu” kata Raisa cemberut
“tunggu beb, aku masih di rumah ini lagi ada sesuatu
yang dicari”
“Cari apa sih, beb. Udah setengah jam nih. Mau
dipotong kue ulang tahunnya” Raisa makin cemberut
“sabar yahhh beb, dikit lagi nih mau kesana”
“Kapan ?”
“Yahhh sekaranglah beb” Kata Natan sedang mencari
pakaian
“Jangan telat yah”
“ Tunggu saja.. beb percaya kan sama Natan”
“Iya beb, tapi harus cepat datangnya karena malu
sama tamu undangan”
“iya beb, santai aja, aku pasti datang kok”
Natan tanpa
berfikir panjang mengambil baju kakaknya di kamar sebelah yang ia lihat. Kaos
omblong berwarna hitam dan tertulis kata dibelakangnya “Buanglah Pacarmu Pada
Tempatnya” tanpa sepengetahuannya. Ia sama sekali tak tahu dengan kata-kata
itu, di pikirannya hanya ada satu yakni pergi menemui Raisa yang dicintainya
dan membuatnya bahagia di acara ulang tahunnya. Dengan agak tergesa-gesa ia
menuju ke luar dan mengambil kunci motor kakaknya yang resing serta mengambil
jas hujan di bagasi. Dia pun menyalakan motor itu dengan menggas full yang
sejak satu hari tadi, motor itu belum keluar sama sekali. Sontak membuat
Tetangganya kaget dan menegur Natan.
“Woiii…Natan ribut sekali motormu”
“Sorry Bang Jali, buru-buru nih mau ke rumahnya
Raisa”
“Buru-buru kok nggak pake sandal, gimana sih kamu?”
“Nggak pake sandal bang?”
“kamu sadar nggak?”
“Astaga, aku lupa pake sandal”
“Makanya jadi orang jangan terburu-buru”
“Yah yah, makasih bang Jali sudah diingatkan” Natan
masih juga agak terburu-buru.
Ketika Natan sedang mencari sepatunya, ia melihat
sepatuhnya masih basah semua karena kebetulan hari itu merupakan hari nyuci
sedunia, biasalah hari minggu. Sekarang ia benar-benar pusing dan bingung
sekali. Mau pake sepatu tapi basah. Dan keajaiban pun muncul, ia melihat
sepasang sandal kusang warna hijau yang tidak asing lagi di matanya. Sandal
yang tiga hari lalu yang hendak dibuang tapi tidak jadi karena mobil pengakut
sampah sudah ke buru hilang. Secepat kilat ia memakai sandal itu dan pergi
begitu saja menggunakan motor resing yang menerobos hujan deras serta
menghilang begitu saja.
Kecepatan motor 120 Km/jam melaju kencang menembus
alun-alun kota tanpa mempedulikan orang-orang yang merasa prihatin dengannya
yang ngebut-ngebutan. Natan yang tak mengenakan Helm itu menerobos lampu merah
dan tidak memperhatikan keselamatannya, beruntung hari itu tidak ada polisi
lalu lintas, bila tidak pasti akan lebih ribet urusannya.
Disamping
itu Raisa mulai jenuh menunggu Natan. Dia belum juga datang ke acara ulang
tahunnya padahal sudah lewat 2 jam berlalu. Raisa sudah berkali-kali mencoba
menghubungi Natan tapi Hpnya nggak diangkat. Para tamu undangan agak
kebingungan karena dari tadi acara pemotongan kue belum juga mulai. Raisa mulai
panik karena tidak adanya sosok sang Kekasih yang menemaninya di hari yang
sangat spesial ini. Akhirnya atas saran dari Ayahnya, acara pemotongan kue
pun berangsung dengan meriah meskipun dalam hatinya yang terdalam, Raisa sangat
membutuhkan sosok Natan. Ingin sekali potongan pertama itu diberikan untuk
Natan dan disuapi olehnya. Hayalan romantis yang ia telah idam-idamkan sejak
semalam, kini berubah tanpa cerita sebab Natan tak ada disampingnya. Raisa pun
menyembunyikan tangisannya dari para tamu undangan terutama sahabatnya Clara
yang ia sayangi. Seolah nampak ia bahagia hari itu.
Selama Natan diperjalanan, bayangan Raisa terus
menari di benaknya. Rasa rindu dan bersalah bercampur aduk bagaikan adonan kue.
Hujan begitu deras membasai jalan yang licin sedangkan waktu terus berjalan
tanpa henti. Natan tak punya pilihan, dia tetap meneruskan perjalannya itu.
Sampai kejadian tak terduga pun tak bisa ia elakkan, ia mengalami
kecelakaan.
Hati Raisa mulai tak berarah. Ia merasa ada yang
mengganjal hatinya. Sesuatu yang datang begitu saja bagaikan angin yang
membelainya penuh ketakutan. Ia serasa mulai menetaskan air mata namun benaknya
pun tak mengerti apa arti semua ini. Natan yang tak kunjung datang seakan
membuat hatinya gelisah. Ia memandang orang-orang bahagia menyambut ulang
tahunnya namun kekasih tak ada disisihnya. Hatinya pun bergumam “aku kecewa
dengan mu Natan, aku sangat kecewa”.
Penglihatan Natan mulai buram melihat orang-orang
mengerumuninya yang seolah membatunya. Ia melihat darah yang mengalir di
sekujur tubuhnya dan motor kakaknya yang rusak. Ia sangat beruntung karena ia
tak mengalami pendarahan parah. Dan setelah diobati oleh salah seorang perawat
yang kebetulan melihat kejadian itu. Natan pun dengan keras kepala tetap ngotot
untuk pergi ke acara ulang tahun Raisa walaupun telah dicegah oleh orang-orang
disana. Hatinya tak ingin membuat Raisa sedih meskipun Natan tak tahu bahwa
Raisa telah kecewa berat dengannya. Dan semua orang mengalah serta membiarkan
Natan pergi begitu saja.
Di acara terakhir ulang tahun kekasihnya. Raisa membaca sebuah puisi untuk Ayah dan
ibunya. Seketika itu tamu undangan sangat terpukau melihatnya melantungkan
puisi yang indah. Semua yang hadir larut dalam suasana haru dan sedih, puisi
berjudul “Pengorbanan Seorang Ayah &
Ibu”. Dan bahkan ada tamu undangan seorang gadis menangis tersedu-sedu. Ibu
Raisa pun terharu sambil meneteskan air mata. Ayahnya tak bisa menahan air
matanya, ia mengingat kembali saat Raisa masih kecil dulu. Sahabat Raisa, Clara
juga turut menangis sambil mengingat kedua orang tuanya. Pembacaan puisi itu
menjadi akhir dan penutup acara ulang tahun kekasih Natan. Setelah raisa
membaca puisi itu, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Tetapi tiba-tiba
ada seorang lelaki berlari kencang memasuki acara ulang Tahun itu. Semua
tamu undangan merasa heran melihat lelaki yang basa kuyup dari kejauhan.
“Natan…” kata Clara yang tak sengaja menyapanya dari kejauhan
“Natan…” kata Clara yang tak sengaja menyapanya dari kejauhan
“Kok dia basah kuyup dan keliatan norak gitu yah”
kata Raisa yang jengkel. Rupahnya Raisa merasa jengkel dengan Natan karena ia
telat datang.
“ Jangan gitu donk, Raisa… biar begitu juga, dia kan
pacar kamu”
“Apa? pacar aku, ingat yah Clara… Aku akan putusin
dia hari ini juga” kata Raisa membohongi dirinya sendiri.
“Jangan Egois seperti itu Raisa, Natan itu orangnya
baik” kata Clara menasehatinya
“Diam kamu Clara, kamu tidak tahu apa-apa tentang
dia” Raisa membentak
Clara hanya terdiam melihat perubahan sikap
sahabatnya itu.
Natan berlari menahan rasa sakitnya. Ia terus
berlari meskipun kakikanya terasa begitu sakit. Ia tak ingin Raisa merasa panik
dengan keadaannya sekarang. Sampai ia di pintu masuk, Natan melihat wajah
kekasihnya cemberut namun ia hanya membalasnya dengan senyuman. Natan berlari
semakin kencang dan tiba-tiba kejadian naas pun tejadi, ia terjatuh di hadapan
semua tamu undangan. “Aduh… kenapa pake acara putus sihhh” kata Natan mengeluh.
Sontak kata itu membuat seluruh tamu undangan ketawa termaksud Ayah Raisa. Ternyata
salah satu sandal milik Natan putus. Hal itu tentu membuat malu Raisa di
hadapan para tamu. Dan Natan pun berbalik arah untuk mengambil sandal yang
putus itu tetapi justru itu juga membuat Raisa semakin kecewa, kata “ Buanglah Pacarmu Pada Tempatnya” yang
tertulis dibelakang baju Natan membuat
Clara mati ketawa terbahak-bahak.
“Siapa cowok itu Raisa kok tidak sopan begitu?” kata Ibunya
“Siapa cowok itu Raisa kok tidak sopan begitu?” kata Ibunya
“Dia itu tante, cowoknya Raisa” dengan jujur Clara
menjawab
“Apa? Cowok aku katamu, dia bohong Ma”
“Kamu nggak usah bohong begitu Raisa”
“ Cukup aku tak ingin berdebat lagi”
Raisa tak mampu mengatakan sebenarnya, ia sangat
malu dengan tamu undangan dan ayah, ibunya meskipun ia sangat menyayangi dan
mencintai Natan dengan Tulus.
“Hei kamu… kok berani-berani kamu datang ke sini”
kata Raisa menunjuk Natan
“Aku minta ma’af Raisa. Aku benar-benar minta
ma’af…”
“Pulang kamu sekarang. Bikin malu saja”
“Raisa… aku minta ma’af. Aku sangat menyesal Raisa”
kata Natan memohon
“iya Raisa, ma’afkanlah Natan. Dia itu cowokmu Raisa
yang paling mencintaimu” Balas Clara yang membela Natan.
“Apa betul begitu Raisa..? tanya Ayah Raisa.
“Mereka bohong Ayah”
“Raisa, aku adalah Natan. Kekasihmu” Tiba-tiba mata
Natan berkaca-kaca tak percaya akan perubahan sikap Raisa.
Seluruh tamu undangan menyaksikan kejadian itu dan
bertanya-tanya satu dengan yang lain. Raisa mulai tidak nyaman melihat
tanggapan orang-orang di sekitarnya. Tanpa berfikir panjang, Raisa turun
menemui Natan dan menamparnya dengan keras.
“Dasar Laki-laki tidak Tau diri” kata Raisa kasar
Sontak membuat seluruh tamu undangan tak percaya
melihat sosok Raisa yang lemah lembut itu menampar pipi Natan hingga merah.
“Raisa, Tahan emosi Raisa” Clara menahan Raisa
“Pergi sana kamu, Natan.. kita putus. Jadi jangan
pernah kamu menemui aku lagi” Raisa mengakuinya tanpa sadar. Dia telah
membohongi dirinya bahwa ia sangat mencintai Natan.
“Sudah Raisa… kamu sudah kelewat batas” kata Clara
marah pada Raisa
“Sudah Nak… Tenangkan dirimu” kata ibu Raisa
“Cepat, kamu akat kaki dari sini Natan. Aku tak
ingin melihat wajahmu” Raisa pun tak bisa lagi menahan emosinya dan menyuruh
Natan untuk pergi dari hadapannya.
Natan terdiam sejenak… “Okelah, aku akan pergi tapi
ingatlah ini, Aku akan tetap mencintaimu hingga ajal menjemputku” Dan Natan pun
pergi meninggalkan Raisa bersama sandal yang putus itu.
“Raisa, kamu bakal menyesal telah menyiakan-nyiakan
Natan” kata Clara menasehati Raisa.
Ketika Raisa melihat Natan pergi dan menghilang
entah kemana. Ia hanya terdiam dan menangis di lubuk hatinya terdalam, sosok
Natan yang sangat ia cintai pergi begitu saja dan tak lagi kembali. Mendengar
kata perpisahan itu, hati Raisa seakan hancur bagaikan karang yang terhempas
oleh ombak lautan. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang kaget melihat
Raisa pingsang. Penyesalannya telah menjadi bubur, ia telah menyia-nyiakan
sosok Natan yang sangat baik dan setia. Keramaian pun seketika itu pula berubah
menjadi keheningan, semua orang panik melihat kondisi Raisa. Ibu Raisa sangat panik
dan menyuruh Ayah menghubungi dokter “Pa… Cepat Hubungi Dokter”
Raisa sadar dan telah menyesali perkataannya pada
Natan. Dan Ia telah di rawat di rumah sakit selama 4 hari dan belum juga
sadarkan diri. Tak ada kata yang tak mampu lagi terucap. Sosok Natan belum juga datang menemui Raisa
yang koma. Hati yang begitu dalam terhanyut oleh ombak samudra,
terombang-ambing karena rasa bersalah. Cinta yang tulus terlalu dalam menusuk sukma
hingga hanya menyisahkan nestapa.
Sahabat Raisa, Clara. Tak mampu ia membendung air
matanya. Melihat Raisa tertidur dan tak sadarkan diri, ia sangat sedih. Raisa
adalah sahabat yang paling ia sayangi di dunia ini. Ia pun merasa bersalah
karena tak membela raisa waktu itu tapi ia bingung sebab Raisa juga salah
karena telah memperlakukan Natan tak baik di hadapan orang. “Raisa benar-benar
telah membohongi dirinya sendiri” kata Clara terbata-bata. Clara terus
menghubungi Natan tetapi ia tak mengangkatnya.
“Natan… Natan…”
“Raisa.. Ini aku… Sahabatmu Clara”, Kata Clara bahagia
melihat sahabatnya setengah sadar.
“Natan,kamu di mana”
“Raisa, ini aku Clara”
“Natan… Natan” dalam keadaan setengah sadar Raisa
terus menyebut Natan. Tapi apalah daya ini Natan tak kujung datang menjenguknya
setelah kejadiaan itu.
Melihat keadaan Raisa seperti itu, Clara keluar dan
meninggalkannya sendiri di ruangan ICU yang hening itu. Ia pergi menemui Ibu
yang sedang menangis di luar. Ayah Raisa terus berjalan mondar-mandir di depan
pintu ruangan ICU tanpa arah. Clara berkata pada Ayah dan Ibu Raisa “Om, Tante,
Raisa sudah agak siuman tapi ia masih belum juga sadar”.
Begitu senang ketika mendengar Raisa agak siuman.
Ibu menghentikan sejenak tangisan nya dan mengantar Clara untuk menemui Raisa
kembali. Dan Ayah menemui Dokter yang dulu pernah merawat Raisa untuk mengecek
keadaannya.
Di ruangan yang dingin dan hampa suara. Tak kala
semua orang menahan isak tangis dan membuat senyuman manis untuknya. Hari tak
lagi bertemu hari, begitu juga waktu. Air mata yang mengalir tulus bagaikan
anak sungai, seolah perlahan mengering. Ayah, Ibu dan Sahabatnya Clara
menantinya dan mendoakannya. Raisa terbaring tanpa kata, lemah dan pucat. Semua
menghela napas panjang sampai seketika dokter itu selesai mengecek keadaan
Raisa namun dokter itu terlihat sangat murung.
“Dok, gimana keadaan anak saya…”
“Anak bapak mengalami tekanan berat sehingga ia
menjadi stress berlebihan. Tapi….”
“Tapi apa Dok..?” Ayah Raisa langsung memotong
pembicaran
“Bapak harus kuat menerima kenyataan ini”
“Yah… Dok, ada apa dengan anak saya?” kata Ayah
Raisa mencoba menenankan diri
“Menurut hasil lab kami, kanker Raisa kembali
kambuh”
“maksud Dokter apa? Raisa sudah dioperasi 3 tahun
yang lalu dan Dokter dulu sempat bilang kalau Raisa telah sembuh total dari
penyakitnya”
“Kami minta ma’af pak sebelumnya. Waktu itu adalah
suatu keajaiban anak bapak telah sembuh total”
“Jadi gimana Dok.. anak saya?” kata ibu meneteskan
air mata
“sekali lagi
kami minta maaf Pak. Raisa sudah mencapai stadium akhir. Kami tidak bisa
berbuat apa-apa lagi”
“Rai…sa, anakku sayang” ujar ibunya menangis
terbata-bata
“Raisa…. Bangun Raisa… ini aku sahabatmu Clara.
Raisa aku minta ma’af. Andai saja, aku marah padamu pasti kamu tidak akan
seperti ini” kata Clara menyesal.
Tiba-tiba Natan terjatuh dan tak bisa berkata-kata.
Ternyata Raisa menyembunyikan semua itu darinya. Natan tak bisa menahan isak
tangisnya melihat sosok yang sangat ia cintai terbaring lemah melawan rasa
sakit itu.
“Natan…” kata Clara
“Ini semua gara-gara kamu, Natan” kata Ibu Raisa tak
bisa menahan Amarah
“Cukup Ma. Mama tidak pernah merasakan apa yang
Raisa inginkan. Mama hanya mementingkan keegoisan Mama. Lihat Raisa, anak kita.
Dia pasti sangat menderita karna ke egoisan Mama” Suara Ayah Raisa menegur Ibu
yang terlalu egois.
Ibu Raisa tak bisa berkata-kata. Memang benar bahwa
selama ini yang menjadi pemisah hubungan antara Raisa dan Natan. Itu karena
ibunya. Ia terlalu egois dan ingin menjodohkan Raisa dengan orang lain. Dan
terus mencari cara agar Raisa menjauh dari Natan.
“Natan… Kemarilah, temani anakku sebelum ia tiada”
“Iya Pak” kata Natan pada Ayah Raisa.
Natan
menghampiri Raisa. Dan semua orang menyaksikan ketika Natan memanggil namanya
di samping kanan Raisa. Ayah menangis melihat Natan seperti itu. Ibu semakin
mengakui kesalahannya walaupun tak mampu mengungkapkannya. Natan semakin
menangis tanpa mempedulikan orang-orang sekitarnya. “Raisa bangunlah… ini aku
Natan. Aku minta maaf karena semua ini adalah salahku. Aku sangat menyesal
Raisa. Ku mohon sadarlah”. Natan terus memanggilnya dan terus menangis menatap
wajah Raisa pucat.
“Natan…Natan…”
“Raisa… Ini aku Natan” kata Natan bahagia
“Natan… Natan..” suara itu semakin mengecil
memanggil Natan.
“Raisa…. Ini aku Natan”
“Natan….” Perlahan Raisa membuka matanya
“Raisa… ini aku Natan, kekasih mu..”
“Natan… aku minta ma’af”
“Tak perlulah minta ma’af padaku, Raisa. Aku sudah
melupakannya”
“Natan… aku sangat mencintai Mu. Aku tak bisa hidup
tanpamu. Jangan pergi dariku lagi Natan. Aku kesepian tanpa mu”
“Iya Raisa. Aku akan berusaha untuk tetap menjagamu
atas izin Tuhan. Janganlah risau”
“Terimakasih Natan. Aku sangat bahagia sekarang” Raisa
menarik nafas panjang dan meninggalkan dunia ini. Kata itu telah menjadi kata
terakhir darinya. Ia telah pergi menemui panggilan Tuhan yang Esa.
Semua orang menangis karena Raisa telah tiada. Natan
tak percaya bila Raisa telah tiada. Natan tak dapat lagi menahan isak tangis. Hatinya
semakin hancur karena kepergian kekasihnya. Raisa adalah sosok yang sangat ia
cintai. Sampai seketika itu, ia tak mampu lagi membendung air mata yang terus
mengalir. Ia pun tejatuh lemas dan tak sadarkan diri.
Inilah kisah cinta itu. Kenangan telah membawa
harapan baru pada dunia ini. Natan yang tetap mencintai Raisa, terus
mendoakannya. Dan semua telah menjadi kehedak Sang Maha Pencipta. Hanyalah
sebuah keikhlasan yang mampu mengobati kerinduannya pada Raisa, juga memberi
semangat pada Natan. Natan menjalani
hari-harinya dengan penuh kesendirian tanpa warna tanpa cinta. Sekian….

