11/21/2017

Cerpen Sendalku Memutuskan Cintaku

 Sendalku Memutuskan Cintaku
(Fardin Yasin Amura)


Hari-hari bersama cinta dikala hati membesuk kedalam rangkaian cinta yang bertabur kata-kata manis. Seakan dunia ini serasa milik kita berdua dan orang lain hanyalah sekedar numpang untuk menjadi pelengkap kisah cinta kita. Di mana momentum indah jalinan cinta terabadikan dalam waktu sesaat yang fana. Senyumanmu menyelimuti langit biru menawan hingga batas ke awan-awan ketika syahdu memandang cakrawala. Bayanganmu terus menari di benak ini dan membuat mata yang rindu tak lagi mampu memejam. Rasa cinta bagaikan monyet kecil yang malu melihat buah-buah yang jatuh. Cinta telah menghapus sakitnya duri yang terinjak begitu pula pilu. Namun semua itu hanyalah kenangan masa lalu ketika perpisahaan menghapus kisah ini.

Semua itu berawal dari kejadian itu. Hujan yang turun tak terduga telah mengubah hari yang cerah menjadi mendung berawan gelap. Awan columbus itu telah membawa angin yang kecang dan tetesan air yang telah membasai baju andalan anak remaja berusia 15 Tahun itu yang rencananya mau dipakai untuk acara ulang tahun bebnya hari ini. Entah udah nasib atau memang lagi ngetrennya sial, ban motornya yang tadinya aman tiba-tiba jadi kempes muka belakang, ditambah lagi kotor dan basah karena becek. Hati yang semakin gelisah karena sudah setengah jam dia telat ke acara ulang tahunnya dengan jarak yang agak jauh. Dan disaat seperti itulah pengorbanan seorang pria sejatih muncul.

Natan begitu panggilannya, tanpa berfikir panjang ia berlari pergi menuju kamarnya untuk mencari pakaian lain yang dipakainya untuk mengganti baju andalanya itu, ia sangat kebingungan karena tak ada satu pun baju yang cocok dipakai untuk pergi ke acara ulang tahun bebnya. Semua bajunya kotor karena ia lupa mencucinya. Dia agak malas mencuci apalagi sehabis pulang dari futsal, yah pasti banyak alasannya kalau sudah ditanya ibu. Tapi meskipun seperti itu kelakuanya, dia juga dikenal anak yang pintar dan rajin bekerja. Ia sangat senang membantu orang tuanya apalagi untuk hal-hal pekerjaan rumah. Sebenarnya bebnya juga cewek yang paling tercantik di sekolahnya dan ayahnya adalah orang yang paling terkaya di kotanya. Ceweknya paling manja kalau diajak jalan-jalan, juga dikenal paling perhatian. Natan paling cinta mati sama dia, apalagi ceweknya merupakan idaman para cowok-cowok sampai-sampai Natan butuh perjuangan lama untuk menaklukan hatinya. Kata teman-teman sih “kamu pake pelet apaan bro, kok bisa Raisa ke centol sama kamu” tapi Natan selalu menanggapinya dengan santai “ Yahhhh… biasa bro, rejeki anak sholeh”. Pernah juga berkelahi hanya karena cowok lain merasa tersaingi dengan Natan. 

Saat sedang mencari baju yang cocok untuk dipake, tiba-tiba Hpnya berbunyi dengan suara yang tidak asing lagi.
“Hallo Natan, Lagi di mana sekarang? sudah ditungguin sama Ayah dan ibu” kata Raisa cemberut
“tunggu beb, aku masih di rumah ini lagi ada sesuatu yang dicari”
“Cari apa sih, beb. Udah setengah jam nih. Mau dipotong kue ulang tahunnya” Raisa makin cemberut
“sabar yahhh beb, dikit lagi nih mau kesana”
“Kapan ?”
“Yahhh sekaranglah beb” Kata Natan sedang mencari pakaian
“Jangan telat yah”
“ Tunggu saja.. beb percaya kan sama Natan”
“Iya beb, tapi harus cepat datangnya karena malu sama tamu undangan”
“iya beb, santai aja, aku pasti datang kok”

  Natan tanpa berfikir panjang mengambil baju kakaknya di kamar sebelah yang ia lihat. Kaos omblong berwarna hitam dan tertulis kata dibelakangnya “Buanglah Pacarmu Pada Tempatnya” tanpa sepengetahuannya. Ia sama sekali tak tahu dengan kata-kata itu, di pikirannya hanya ada satu yakni pergi menemui Raisa yang dicintainya dan membuatnya bahagia di acara ulang tahunnya. Dengan agak tergesa-gesa ia menuju ke luar dan mengambil kunci motor kakaknya yang resing serta mengambil jas hujan di bagasi. Dia pun menyalakan motor itu dengan menggas full yang sejak satu hari tadi, motor itu belum keluar sama sekali. Sontak membuat Tetangganya kaget dan menegur Natan.

“Woiii…Natan ribut sekali motormu”
“Sorry Bang Jali, buru-buru nih mau ke rumahnya Raisa”
“Buru-buru kok nggak pake sandal, gimana sih kamu?”
“Nggak pake sandal bang?”
“kamu sadar nggak?”
“Astaga, aku lupa pake sandal”
“Makanya jadi orang jangan terburu-buru”
“Yah yah, makasih bang Jali sudah diingatkan” Natan masih juga agak terburu-buru.

Ketika Natan sedang mencari sepatunya, ia melihat sepatuhnya masih basah semua karena kebetulan hari itu merupakan hari nyuci sedunia, biasalah hari minggu. Sekarang ia benar-benar pusing dan bingung sekali. Mau pake sepatu tapi basah. Dan keajaiban pun muncul, ia melihat sepasang sandal kusang warna hijau yang tidak asing lagi di matanya. Sandal yang tiga hari lalu yang hendak dibuang tapi tidak jadi karena mobil pengakut sampah sudah ke buru hilang. Secepat kilat ia memakai sandal itu dan pergi begitu saja menggunakan motor resing yang menerobos hujan deras serta menghilang begitu saja. 

Kecepatan motor 120 Km/jam melaju kencang menembus alun-alun kota tanpa mempedulikan orang-orang yang merasa prihatin dengannya yang ngebut-ngebutan. Natan yang tak mengenakan Helm itu menerobos lampu merah dan tidak memperhatikan keselamatannya, beruntung hari itu tidak ada polisi lalu lintas, bila tidak pasti akan lebih ribet urusannya.

     Disamping itu Raisa mulai jenuh menunggu Natan. Dia belum juga datang ke acara ulang tahunnya padahal sudah lewat 2 jam berlalu. Raisa sudah berkali-kali mencoba menghubungi Natan tapi Hpnya nggak diangkat. Para tamu undangan agak kebingungan karena dari tadi acara pemotongan kue belum juga mulai. Raisa mulai panik karena tidak adanya sosok sang Kekasih yang menemaninya di hari yang sangat spesial ini. Akhirnya atas saran dari Ayahnya, acara pemotongan kue pun berangsung dengan meriah meskipun dalam hatinya yang terdalam, Raisa sangat membutuhkan sosok Natan. Ingin sekali potongan pertama itu diberikan untuk Natan dan disuapi olehnya. Hayalan romantis yang ia telah idam-idamkan sejak semalam, kini berubah tanpa cerita sebab Natan tak ada disampingnya. Raisa pun menyembunyikan tangisannya dari para tamu undangan terutama sahabatnya Clara yang ia sayangi. Seolah nampak ia bahagia hari itu. 

Selama Natan diperjalanan, bayangan Raisa terus menari di benaknya. Rasa rindu dan bersalah bercampur aduk bagaikan adonan kue. Hujan begitu deras membasai jalan yang licin sedangkan waktu terus berjalan tanpa henti. Natan tak punya pilihan, dia tetap meneruskan perjalannya itu. Sampai kejadian tak terduga pun tak bisa ia elakkan, ia mengalami kecelakaan. 
      
Hati Raisa mulai tak berarah. Ia merasa ada yang mengganjal hatinya. Sesuatu yang datang begitu saja bagaikan angin yang membelainya penuh ketakutan. Ia serasa mulai menetaskan air mata namun benaknya pun tak mengerti apa arti semua ini. Natan yang tak kunjung datang seakan membuat hatinya gelisah. Ia memandang orang-orang bahagia menyambut ulang tahunnya namun kekasih tak ada disisihnya. Hatinya pun bergumam “aku kecewa dengan mu Natan, aku sangat kecewa”.

Penglihatan Natan mulai buram melihat orang-orang mengerumuninya yang seolah membatunya. Ia melihat darah yang mengalir di sekujur tubuhnya dan motor kakaknya yang rusak. Ia sangat beruntung karena ia tak mengalami pendarahan parah. Dan setelah diobati oleh salah seorang perawat yang kebetulan melihat kejadian itu. Natan pun dengan keras kepala tetap ngotot untuk pergi ke acara ulang tahun Raisa walaupun telah dicegah oleh orang-orang disana. Hatinya tak ingin membuat Raisa sedih meskipun Natan tak tahu bahwa Raisa telah kecewa berat dengannya. Dan semua orang mengalah serta membiarkan Natan pergi begitu saja.

Di acara terakhir ulang tahun kekasihnya.  Raisa membaca sebuah puisi untuk Ayah dan ibunya. Seketika itu tamu undangan sangat terpukau melihatnya melantungkan puisi yang indah. Semua yang hadir larut dalam suasana haru dan sedih, puisi berjudul “Pengorbanan Seorang Ayah & Ibu”. Dan bahkan ada tamu undangan seorang gadis menangis tersedu-sedu. Ibu Raisa pun terharu sambil meneteskan air mata. Ayahnya tak bisa menahan air matanya, ia mengingat kembali saat Raisa masih kecil dulu. Sahabat Raisa, Clara juga turut menangis sambil mengingat kedua orang tuanya. Pembacaan puisi itu menjadi akhir dan penutup acara ulang tahun kekasih Natan. Setelah raisa membaca puisi itu, semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki berlari kencang memasuki acara ulang Tahun itu. Semua tamu undangan merasa heran melihat lelaki yang basa kuyup dari kejauhan.

 “Natan…” kata Clara yang tak sengaja menyapanya dari kejauhan
“Kok dia basah kuyup dan keliatan norak gitu yah” kata Raisa yang jengkel. Rupahnya Raisa merasa jengkel dengan Natan karena ia telat datang. 
“ Jangan gitu donk, Raisa… biar begitu juga, dia kan pacar kamu”
“Apa? pacar aku, ingat yah Clara… Aku akan putusin dia hari ini juga” kata Raisa membohongi dirinya sendiri.
“Jangan Egois seperti itu Raisa, Natan itu orangnya baik” kata Clara menasehatinya
“Diam kamu Clara, kamu tidak tahu apa-apa tentang dia” Raisa membentak
Clara hanya terdiam melihat perubahan sikap sahabatnya itu. 

Natan berlari menahan rasa sakitnya. Ia terus berlari meskipun kakikanya terasa begitu sakit. Ia tak ingin Raisa merasa panik dengan keadaannya sekarang. Sampai ia di pintu masuk, Natan melihat wajah kekasihnya cemberut namun ia hanya membalasnya dengan senyuman. Natan berlari semakin kencang dan tiba-tiba kejadian naas pun tejadi, ia terjatuh di hadapan semua tamu undangan. “Aduh… kenapa pake acara putus sihhh” kata Natan mengeluh. Sontak kata itu membuat seluruh tamu undangan ketawa termaksud Ayah Raisa. Ternyata salah satu sandal milik Natan putus. Hal itu tentu membuat malu Raisa di hadapan para tamu. Dan Natan pun berbalik arah untuk mengambil sandal yang putus itu tetapi justru itu juga membuat Raisa semakin kecewa, kata “ Buanglah Pacarmu Pada Tempatnya” yang tertulis dibelakang baju Natan  membuat Clara mati ketawa terbahak-bahak.

 “Siapa cowok itu Raisa kok tidak sopan begitu?” kata Ibunya
“Dia itu tante, cowoknya Raisa” dengan jujur Clara menjawab
“Apa? Cowok aku katamu, dia bohong Ma”
“Kamu nggak usah bohong begitu Raisa”
“ Cukup aku tak ingin berdebat lagi”
Raisa tak mampu mengatakan sebenarnya, ia sangat malu dengan tamu undangan dan ayah, ibunya meskipun ia sangat menyayangi dan mencintai Natan dengan Tulus.
“Hei kamu… kok berani-berani kamu datang ke sini” kata Raisa menunjuk Natan
“Aku minta ma’af Raisa. Aku benar-benar minta ma’af…”
“Pulang kamu sekarang. Bikin malu saja”
“Raisa… aku minta ma’af. Aku sangat menyesal Raisa” kata Natan memohon
“iya Raisa, ma’afkanlah Natan. Dia itu cowokmu Raisa yang paling mencintaimu” Balas Clara yang membela Natan.
“Apa betul begitu Raisa..? tanya Ayah Raisa.
“Mereka bohong Ayah”
“Raisa, aku adalah Natan. Kekasihmu” Tiba-tiba mata Natan berkaca-kaca tak percaya akan perubahan sikap Raisa.

Seluruh tamu undangan menyaksikan kejadian itu dan bertanya-tanya satu dengan yang lain. Raisa mulai tidak nyaman melihat tanggapan orang-orang di sekitarnya. Tanpa berfikir panjang, Raisa turun menemui Natan dan menamparnya dengan keras.
“Dasar Laki-laki tidak Tau diri” kata Raisa kasar
Sontak membuat seluruh tamu undangan tak percaya melihat sosok Raisa yang lemah lembut itu menampar pipi Natan  hingga merah.
“Raisa, Tahan emosi Raisa” Clara menahan Raisa
“Pergi sana kamu, Natan.. kita putus. Jadi jangan pernah kamu menemui aku lagi” Raisa mengakuinya tanpa sadar. Dia telah membohongi dirinya bahwa ia sangat mencintai Natan.
“Sudah Raisa… kamu sudah kelewat batas” kata Clara marah pada Raisa
“Sudah Nak… Tenangkan dirimu” kata ibu Raisa
“Cepat, kamu akat kaki dari sini Natan. Aku tak ingin melihat wajahmu” Raisa pun tak bisa lagi menahan emosinya dan menyuruh Natan untuk pergi dari hadapannya.
Natan terdiam sejenak… “Okelah, aku akan pergi tapi ingatlah ini, Aku akan tetap mencintaimu hingga ajal menjemputku” Dan Natan pun pergi meninggalkan Raisa bersama sandal yang putus itu.
“Raisa, kamu bakal menyesal telah menyiakan-nyiakan Natan” kata Clara menasehati Raisa. 

Ketika Raisa melihat Natan pergi dan menghilang entah kemana. Ia hanya terdiam dan menangis di lubuk hatinya terdalam, sosok Natan yang sangat ia cintai pergi begitu saja dan tak lagi kembali. Mendengar kata perpisahan itu, hati Raisa seakan hancur bagaikan karang yang terhempas oleh ombak lautan. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang kaget melihat Raisa pingsang. Penyesalannya telah menjadi bubur, ia telah menyia-nyiakan sosok Natan yang sangat baik dan setia. Keramaian pun seketika itu pula berubah menjadi keheningan, semua orang panik melihat kondisi Raisa. Ibu Raisa sangat panik dan menyuruh Ayah menghubungi dokter “Pa… Cepat Hubungi Dokter”

Raisa sadar dan telah menyesali perkataannya pada Natan. Dan Ia telah di rawat di rumah sakit selama 4 hari dan belum juga sadarkan diri. Tak ada kata yang tak mampu lagi terucap.  Sosok Natan belum juga datang menemui Raisa yang koma. Hati yang begitu dalam terhanyut oleh ombak samudra, terombang-ambing karena rasa bersalah. Cinta yang tulus terlalu dalam menusuk sukma hingga hanya menyisahkan nestapa.

Sahabat Raisa, Clara. Tak mampu ia membendung air matanya. Melihat Raisa tertidur dan tak sadarkan diri, ia sangat sedih. Raisa adalah sahabat yang paling ia sayangi di dunia ini. Ia pun merasa bersalah karena tak membela raisa waktu itu tapi ia bingung sebab Raisa juga salah karena telah memperlakukan Natan tak baik di hadapan orang. “Raisa benar-benar telah membohongi dirinya sendiri” kata Clara terbata-bata. Clara terus menghubungi Natan tetapi ia tak mengangkatnya.

“Natan… Natan…”
“Raisa.. Ini aku… Sahabatmu Clara”, Kata Clara bahagia melihat sahabatnya setengah sadar.
“Natan,kamu di mana”
“Raisa, ini aku Clara”
“Natan… Natan” dalam keadaan setengah sadar Raisa terus menyebut Natan. Tapi apalah daya ini Natan tak kujung datang menjenguknya setelah kejadiaan itu.

Melihat keadaan Raisa seperti itu, Clara keluar dan meninggalkannya sendiri di ruangan ICU yang hening itu. Ia pergi menemui Ibu yang sedang menangis di luar. Ayah Raisa terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU tanpa arah. Clara berkata pada Ayah dan Ibu Raisa “Om, Tante, Raisa sudah agak siuman tapi ia masih belum juga sadar”.

Begitu senang ketika mendengar Raisa agak siuman. Ibu menghentikan sejenak tangisan nya dan mengantar Clara untuk menemui Raisa kembali. Dan Ayah menemui Dokter yang dulu pernah merawat Raisa untuk mengecek keadaannya.

Di ruangan yang dingin dan hampa suara. Tak kala semua orang menahan isak tangis dan membuat senyuman manis untuknya. Hari tak lagi bertemu hari, begitu juga waktu. Air mata yang mengalir tulus bagaikan anak sungai, seolah perlahan mengering. Ayah, Ibu dan Sahabatnya Clara menantinya dan mendoakannya. Raisa terbaring tanpa kata, lemah dan pucat. Semua menghela napas panjang sampai seketika dokter itu selesai mengecek keadaan Raisa namun dokter itu terlihat sangat murung.
“Dok, gimana keadaan anak saya…”
“Anak bapak mengalami tekanan berat sehingga ia menjadi stress berlebihan. Tapi….”
“Tapi apa Dok..?” Ayah Raisa langsung memotong pembicaran
“Bapak harus kuat menerima kenyataan ini”
“Yah… Dok, ada apa dengan anak saya?” kata Ayah Raisa mencoba menenankan diri
“Menurut hasil lab kami, kanker Raisa kembali kambuh”
“maksud Dokter apa? Raisa sudah dioperasi 3 tahun yang lalu dan Dokter dulu sempat bilang kalau Raisa telah sembuh total dari penyakitnya”
“Kami minta ma’af pak sebelumnya. Waktu itu adalah suatu keajaiban anak bapak telah sembuh total”
“Jadi gimana Dok.. anak saya?” kata ibu meneteskan air mata
“sekali lagi  kami minta maaf Pak. Raisa sudah mencapai stadium akhir. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi” 
“Rai…sa, anakku sayang” ujar ibunya menangis terbata-bata
“Raisa…. Bangun Raisa… ini aku sahabatmu Clara. Raisa aku minta ma’af. Andai saja, aku marah padamu pasti kamu tidak akan seperti ini” kata Clara menyesal.

Tiba-tiba Natan terjatuh dan tak bisa berkata-kata. Ternyata Raisa menyembunyikan semua itu darinya. Natan tak bisa menahan isak tangisnya melihat sosok yang sangat ia cintai terbaring lemah melawan rasa sakit itu.
“Natan…” kata Clara
“Ini semua gara-gara kamu, Natan” kata Ibu Raisa tak bisa menahan Amarah
“Cukup Ma. Mama tidak pernah merasakan apa yang Raisa inginkan. Mama hanya mementingkan keegoisan Mama. Lihat Raisa, anak kita. Dia pasti sangat menderita karna ke egoisan Mama” Suara Ayah Raisa menegur Ibu yang terlalu egois.
Ibu Raisa tak bisa berkata-kata. Memang benar bahwa selama ini yang menjadi pemisah hubungan antara Raisa dan Natan. Itu karena ibunya. Ia terlalu egois dan ingin menjodohkan Raisa dengan orang lain. Dan terus mencari cara agar Raisa menjauh dari Natan.
“Natan… Kemarilah, temani anakku sebelum ia tiada”
“Iya Pak” kata Natan pada Ayah Raisa.

 Natan menghampiri Raisa. Dan semua orang menyaksikan ketika Natan memanggil namanya di samping kanan Raisa. Ayah menangis melihat Natan seperti itu. Ibu semakin mengakui kesalahannya walaupun tak mampu mengungkapkannya. Natan semakin menangis tanpa mempedulikan orang-orang sekitarnya. “Raisa bangunlah… ini aku Natan. Aku minta maaf karena semua ini adalah salahku. Aku sangat menyesal Raisa. Ku mohon sadarlah”. Natan terus memanggilnya dan terus menangis menatap wajah Raisa pucat. 

“Natan…Natan…”
“Raisa… Ini aku Natan” kata Natan bahagia
“Natan… Natan..” suara itu semakin mengecil memanggil Natan.
“Raisa…. Ini aku Natan”
“Natan….” Perlahan Raisa membuka matanya
“Raisa… ini aku Natan, kekasih mu..”
“Natan… aku minta ma’af”
“Tak perlulah minta ma’af padaku, Raisa. Aku sudah melupakannya”  
“Natan… aku sangat mencintai Mu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Jangan pergi dariku lagi Natan. Aku kesepian tanpa mu”
“Iya Raisa. Aku akan berusaha untuk tetap menjagamu atas izin Tuhan. Janganlah risau”

“Terimakasih Natan. Aku sangat bahagia sekarang” Raisa menarik nafas panjang dan meninggalkan dunia ini. Kata itu telah menjadi kata terakhir darinya. Ia telah pergi menemui panggilan Tuhan yang Esa.
  
Semua orang menangis karena Raisa telah tiada. Natan tak percaya bila Raisa telah tiada. Natan tak dapat lagi menahan isak tangis. Hatinya semakin hancur karena kepergian kekasihnya. Raisa adalah sosok yang sangat ia cintai. Sampai seketika itu, ia tak mampu lagi membendung air mata yang terus mengalir. Ia pun tejatuh lemas dan tak sadarkan diri. 
   
Inilah kisah cinta itu. Kenangan telah membawa harapan baru pada dunia ini. Natan yang tetap mencintai Raisa, terus mendoakannya. Dan semua telah menjadi kehedak Sang Maha Pencipta. Hanyalah sebuah keikhlasan yang mampu mengobati kerinduannya pada Raisa, juga memberi semangat pada Natan.  Natan menjalani hari-harinya dengan penuh kesendirian tanpa warna tanpa cinta. Sekian….




Bagikan

Jangan lewatkan

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.